Jumat, 24 Juli 2009

I Just Wanna Be Happy With Him, Enough..

Hampir setahun berlalu saat-saat dimana aku berjuang keras merampungkan skripsiku. Masih terekam dalam ingatanku bagaimana aku harus datang jam 7 malam hanya untuk minta tanda tangan dosen pembimbing. Ketika itu hujan turun cukup deras.Payung, alat yang harusnya jadi pelindungku, selalu luput dari perhatianku manakala aku sangat sadar bahwa awan mendung bergelayut tepat diatas kepalaku.

Bodoh memang. Yaa, dan karena kebodohanku itu, aku harus jalan kaki ujan-ujanan dari kolong Karet hingga Sudirman Park. Kebetulan juga kondisi jalanan macet total gara-gara banjir. Tak mungkin aku memaksa naek angkot, bemo, atau ojek saat jarum jam menunjukkan pukul 18.45 dan keadaan lalu lintas lagi kacau-kacaunya. Dosenku super sibuk dan beliau tak suka mahasiswa bimbingannya datang terlambat karena (katanya) menunggu adalah pembuangan waktu secara sia-sia. Alhasil, aku andalkan saja dua kaki ciptaanNya yang maha sempurna ini untuk sampai di tujuan dengan selamat dan tepat waktu. Hupff.. ternyata lumayan juga pegelnya.

Kebayang dong tampilanku waktu itu, persis kaya tikus kecebur got. Bodo amat deh. Demi skripsi, pikirku. Tapi apa yang terjadi ketika aku baru bisa melihat handphone-ku dan ada 1 SMS masuk. Dosenku. "Firda, maaf ya sepertinya saya tidak bisa datang ke LSPR malam ini karena terjebak macet di warung buncit.Mengenai tanda tangan saya, kamu bisa ketemu saya besok di UI dari jam 10 pagi.trims." DAMNED!!!!!!!!Ga jadi datengg????Macet di Warung Buncit?????Ke UI???Besok???Jam 10????Hhhhhh..ampuuunnnnnnn.....

Jadi, pengorbananku sia-sia gituu??Bela-belain jalan kaki biar gak telat ternyata ga jadi aja ketemuannya?Dan ironisnya hanya untuk minta tanda tangan???Oh, My God!!Hh..campur aduk tuh rasanya pas tahu kenyataan yang terjadi. Ya kesel, marah, dongkol, bete. Pengen nangis banget tapi gak ada siapa-siapa didekatku, gak ada yang minjemin bahunya, gak asik ah. Aku berusaha menenangkan emosi jiwaku.

Hal pertama yang aku lakukan, minum sebotol air putih. Pengennya sih segalon aja biar sekalian kembung dan kemarahan mereda. Tapi apa daya, galonnya tak tersedia jika hanya akan diminum satu orang mungil sepertiku.

Perlahan aku coba mengatur nafas dan memutuskan apa yang selanjutnya aku lakukan, langsung pulang-kah ditengah gerimis mengundang dan jalanan sedang macet-macetnya?Atau tetap di sofa kantin sambil menunggu jalanan kembali lancar?Atau bagaimana?Aku mengamati sekeliling dan pandanganku lalu tertuju pada gedung menjulang didepan jendela. Di luar sana tertulis sebuah nama. Bisnis Indonesia.

Ya, disana, tepat 8 bulan lalu, aku memulai begitu banyak cerita. Berawal dari tugas mata kuliah Internship, aku terdampar di lantai 7 perusahaan media milik Soebronto Laras itu. Ketika itu, Rahmayulis Saleh, atau kerap disapa Bunda, menjadi atasanku. Dan aku resmi menjadi mahasiswa magang di bagian sekretariat Redaksi. Tapi, lebih dari itu, aku merasa menjadi seorang pecundang.Keberadaanku disana selain karena andil besar ayahku dan juga keterpaksaan, kreativitasku sebagai mahasiswa jurnalistik hampir dimatikan oleh segudang tugas-tugas administrasi yang jauh dari ilmu yang kudapat.

Idealisme-ku kala itu masih berada di angka 9 dalam diriku. I like writing and i wanna be a journalist. Itu kemauanku, itu pilihanku. Aku berada pada sebuah perusahaan media massa tapi aku ada didalamnya bukan untuk belajar bagaimana menjadi jurnalis melainkan hanya mengerjakan tugas administrasi ringan dan belajar teknik fotokopi. Its very sad to me.

Hmm..tapi rupanya aku diberikan kecerdasan yang lain. Bukan maksud buat narsis, tapi aku yakin, setiap orang yang perfeksionis sekaligus idealis seperti diriku tak akan mudah menerima suatu hal diluar batas 'sempurna' dan 'ideal'itu sendiri, dan aku mampu. Dari sisi nalar religiusku, aku bisa berkata bahwa 'apapun bentuknya, sempurna atau tidak, ideal atau tidak, semua yang aku alami adalah baik menurutNya".

Sempurna buatku tentu lain buatNya. Ideal menurutku pasti berbeda dengan ideal menurutNya. Maka, pantaslah aku untuk berkaca pada diriku, mengakui bahwa aku memang jauh dari sempurna. Kayanya kok aku malu sendiri, masa aku yang jauh dari sempurna ini belagu bener kepengen dapetin segala sesuatu yang sempurna. Dari situ, aku yang tadinya bertekad bulat mengundurkan diri di hari ke-3 akhirnya berubah pikiran dan mulai menjalani hari-hariku di lantai 7 dengan semangat 'ketidaksempurnaan' yang aku bawa.

Eehh..manjur juga ternyata strategi perombakan cara pandang yang aku lakukan sampai-sampai aku seolah tak rela meninggalkan tempat itu ketika masa internship-ku habis. Semua seakan berbalik. Aku yang tadinya merasa terpaksa berubah jadi aku ingin tetap ada disana. "it would be different without you" begitu kata seorang teman. Dan, tentu..i feel the same with you. It would be different.But life must go on. Aku harus meninggalkan rutinitasku disana. Akan ada rindu dan selalu ada rindu di hatiku untuk Bisnis Indonesia.

Ah..kenapa aku jadi melow sih?Cepat sekali rasa dalam hatiku berubah, dari marah jadi melow, udah kaya channel TV aja yang bisa setiap saat di-switch. Tapi, bagus juga rasa kesalku jadi hilang seketika dan aku bisa kembali berpikir dengan jernih bak sebotol air putih yang baru saja kuteguk. Aku melirik jarum jam ditanganku. 20.15. Wah, sudah cukup larut. Dan itu artinya aku harus segera kembali ke rumah. Aku bergegas menuju jalan raya. Wow, masih saja macet. Otakku berpikir, jika aku paksakan pulang naik bis, bisa-bisa sampai dirumah lebih dari jam 10 malam.

Aku harus cari akal. Ahaa..tiba-tiba aku teringat seorang temanku di Bisnis dulu. Harry namanya. Aku merencanakan sesuatu. NEBENG. Yups..karena kebetulan rumahku dan rumahnya berada di kawasan yang sama. Dia pasti tak akan tega membiarkan cewek imut ini pulang sendirian bermacet-macet ria dalam bis. Aku menghubunginya dan ia berkata, "Ya udah, ya udah gue jemput sekarang, lo tunggu aja di depan". Tuh kan kubilang juga apa, ia tak akan tega. Hehehhe..

Jadilah aku pulang bersama beruangmadu - nickname Harry di ruang chat -. Diatas motor kami saling berbagi cerita. Sudah pasti aku bercerita tentang kejadian yang baru 2 jam kualami tadi. Sedangkan Harry bercerita tentang cewek baru kecengannya. Ditengah-tengah obrolan, Harry melontarkan candaan, " Fir, lo tuh maunya cowok yang berprofesi apa sih?Market analis yang kece ini ditolak, wartawan kaya mas Bambang juga sama aja, mahasiswa apalagi, jadi yang macam mana??Cari pacar sono biar ada yang nganterin!" Spontan kubalas ledekan Harry tadi, "Yee..bukan masalah profesi har, masalah hati nih.Ribet jadinya. Tapi kalo lo tanya soal profesi yang kaya gimana, i think journalist sexier than others",

"Lah, itu mas Bambang??", "Kan gw bilang, ini urusan hati, gak bisa ditebak maunya. Gw suka mas Bambang secara personal dan profesional, but no chemistry with him, so??" "Ah, bilang aja lo kebanyakan maunya, jangan gitu loh nanti ga laku-laku!" "Bukan banyak maunya, gue gak bisa maen-maen soal beginian, jadi mendingan nunggu daripada salah lagi" Eh, Harry malah ketawaketiwi aja tuh denger jawabanku, dia menganggap aku nggak bisa santai menjalani hidup, terlalu banyak mikir padahal didepan mata banyak yang sayang padaku, tinggal pilih salah satu aja susah banget.

"Wartawan Bisnis yang laen kan masih banyak tu stoknya, screening aja dulu" Jiahh..SCREENING??Hahahhaa..dikira ujian kali pake dibegituin. "Ogah ah, wartawan Bisnis potongannya sama semua" kataku dengan cueknya. "wah..jangan disamain dong, ntar kecantol salah satunya baru deh lo tau rasa!hahahhaha"balas Harry menutup obrolan kami malam itu.

Pertemuanku kini dengan seorang wartawan Bisnis Indonesia yang kemudian menjadi kekasihku mengingatkan aku pada candaan Harry menjelang pertengahan tahun 2008 lalu itu."Kecantol salah satunya". Aku tak percaya tentang adanya mitos kebetulan atau apa yang disebut "kemakan omongan", tapi aku percaya itulah jalan yang memang sudah direncanakanNya, ia dihadirkan pada saat yang pas juga dengan cara yang tepat.

Pada akhirnya aku memang bisa melepas jubah kesempurnaan itu dan mendapatkan sosok yang aku cari. Tentunya, aku tak lagi mencari sempurna, tapi aku mencari bahagia. Kutemukan itu saat bersamanya. Dan, jika kala itu aku mampu berjalan kaki ujan-ujanan dari Karet ke Sudirman Park hanya untuk sebuah tanda tangan dosenku, maka kini aku pasti mampu berjuang untuk sesuatu yang aku yakini, berjuang untuk cinta yang memang sudah sepantasnya diperjuangkan.

Wah, bener juga tuh kuis di Facebook tadi, dari ke sembilan tipe Enneagram manusia, katanya aku termasuk ke dalam tipe pejuang. Wah..wah..cocok dikirim ke Palestina nih..Tapi nggak ah, cukuplah bagiku dikirim ke hati seseorang untuk jadi pejuang cintanya.Once more, i just wanna be happy with him, enough..

Jumat, 30 Januari 2009

Balada Si Fresh Graduate

Waktu menunjukkan pukul satu lebih dua puluh menit dini hari. Harusnya aku udah tidur di jam segitu. Tapi karena aku sedang merindukan seseorang, maka jadilah aku mengaktifkan ebuddy, software messenger untuk HP, dan berselancar ria di dunia chatting. Tiba-tiba ada teks masuk dari seseorang. Iya' namanya.

Nama lengkapnya Eimiria Tamsyarina, cukup panggil aja dengan Iya'. Menurutku, dia orang yang setipe denganku untuk beberapa hal tertentu, salah satunya soal mengejar mimpi dan cita-cita. Kami sama-sama punya mimpi besar dan ambisi yang kuat. Bedanya, dia jauh lebih keras dan niatnya kenceng banget. Gak heran, akhirnya dia menjadi lulusan terbaik The London School of Public Relations-Jakarta tahun 2008 dengan predikat summa cum laude. Wow.. keren sekali.

Perasaan bangga jelas aja muncul karena walaupun kami tak sedekat lem dan prangko, Iya' ini salah satu teman yang sering sharing denganku, dan aku tahu hasil itu adalah buah dari kerja kerasnya selama ini hidup di kota besar seperti Jakarta. Yaa..maklumlah dia ini asli daerah yang merantau ke ibukota. Anaknya sangat aktif dan gak bisa diem. Selalu haus pengetahuan dan tomboi abis. Yang menonjol dari ciri fisiknya adalah kulitnya yang putih banget bagai lobak dan rambutnya yang kriting kaya mi goreng. Gak pernah sedih, selalu ceria,selalu optimis dan bersemangat. Makanya aku kaget membaca teksnya malam itu.

Awalnya dia menggempurku dengan emoticon 'crying'. Ku tanya, 'Iya knapa?', dia hanya menjawab singkat, 'firda, iya sedihhh'.'Loh?Iya bisa juga sedih??!' candaku. 'beneran fir..lagi sedih..'. Ok, melihat reply darinya, aku mulai menata settingan diri dan mengaktifkan 'serius' mode di otakku. Aku tanya lagi,'sedih kenapa?mau cerita?'. Setelah menunggu beberapa saat Iya membalasnya.'Iya juga gak tau fir sedih kenapa. Iya cuma pengen nangis tanpa tau apa sebab yang pastinya'. Waduh..piye toh anak ini, sedih kok gak ada sebabnya. Hmm..tapi aku juga pernah sih mengalaminya, saat aku gundah menjadi pengangguran.Ahaa..pengangguran. Mungkin ini juga yang sedang dialami Iya berkaitan dengan perasaannya kala itu.

'Iya sedih tanpa sebab??gara-gara kerjaan-kah?' tanyaku spontan. 'Hmm..iya fir salah satunya itu. Iya bingung..harus gimana?Masa harus terus nganggur?'. Ups..tebakanku jitu juga. Perasaan yang wajar menurutku apalagi Iya' merupakan lulusan terbaik. Dengan segala kemampuanku, aku berusaha menyemangatinya. 'Iya..tenang aja..lulusan terbaik pasti bisa dapet kerja.Gw aja yang IPK-nya ngepas hampir dibawah standar bisa dapet kerja.Allah tuh cuma lagi ngatur schdule yang pas aja buat lo..nanti kalo dah fixed, baru deh Dia akan umumkan' begitu kata-kata bijakku. 'Kaya gini ya nasib fresh graduate?' katanya pesimis. Sembari bercanda aku berseloroh, 'Hehehehe..mungkin Iya sedang terkena sindrom fresh graduate blues..ga papa, gue juga pernah ngalamin, tapi santai aja, badai pasti berlalu kok, ini kan hanya bagian dari proses hidup'.Melihat jawabanku yang lagi-lagi bijak, Iya langsung mengirimiku emoticon tepuk tangan. 'Wahh..miss secara..bijaksana banget sih'. 'Miss secara' merupakan panggilan favoritnya yang ditujukan untukku, entahlah tapi Iya' seneng banget manggil aku dengan sebutan itu.

Hehehe..jadi ketawa sendiri membaca kata-kata Iya. Bijaksana. Kadang-kadang aja sih munculnya kalo otakku ini lagi pas settingannya. 'Trus waktu lo kaya gue, lo ngapain?'Iya kembali bertanya. ' Tetep berusaha tersenyum walau pahit rasanya. Yang penting berdoa sebanyak-banyaknya dan tetap berusaha!!Chayo!!!' jawabku.'Pengen deh bisa kaya firda..'.'Iya juga bisa..pasti bisa!Kerjaan itu cuma soal rejeki aja, kan lo tau rejeki dah ada yang atur, tinggal kita usaha terus' 'iya juga ya.Hmm..thanks banget ya fir..Iya jadi dapet suntikan semangat baru' begitu katanya menutup chat kami.

Aku menghela nafas panjang, lagi dan lagi aku mendapati cerita ini.Yups, curhatan Iya' tentang keluhannya adalah yang kesekian kali terdengar di telingaku. Ada banyak teman-temanku yang merasakan pahitnya menjadi pengangguran terdidik. Dan, masing-masing di kondisi yang sama, baru lulus kuliah alias fresh graduate. Aku pernah merasakan hal serupa bahkan deritaku lebih lengkap saat pekerjaan yang sudah ada didepan mata tiba-tiba lenyap. Gak karuan kondisi hati waktu itu.Tapi..yaa..mau gimana lagi..life must go on, dan aku gak boleh terus-terusan meratapi nasib, apa kata dunia kalo tiba-tiba senyum manisku lenyap digantikan airmata kesedihan??hehehe..

Jumlah pengangguran di negara ini katanya bakal meningkat tajam seiring krisis ekonomi global yang melanda dunia. Bayangan masa depan yang suram tentu akan bahkan sudah menghantui mereka yang sampai detik ini belum mendapatkan pekerjaan. Termasuk mereka, sahabat-sahabatku. Kalo kata aku, mereka bukannya gak punya kualitas dan kelayakan bekerja, tapi murni karena emang belum rejekinya. Salah gak sih pendapatku itu ditengah kondisi negara yang udah carut marut kaya gini?Mau dibilang lapangan kerjanya yang sempit??Menurutku nggak tuh..karena nyatanya apapun yang kita kerjakan berpeluang menghasilkan uangkaya jagain toilet misalnya, tinggal duduk aja liatin orang keluar masuk,bisa dapet duit. Mau dibilang SDM-nya sendiri yang belagu, maunya macem-macem, maunya dapet kerja yang sesuai? Menurutku juga sah-sah aja, wajar donk kalo kita punya mimpi, cita-cita, dan ambisi sekalipun judulnya fresh graduate. Gini nih emang gak enaknya jadi fresh from the oven..eh..fresh graduate maksudnya, sering diremehin mereka-mereka yang katanya 'berpengalaman'. Padahal mereka yang 'berpengalaman' pun belum tentu punya kualitas yang lebih bagus.

Balik lagi ke kisah sahabat-sahabatku, aku jadi berkaca pada diri sendiri yang sering banget mengeluhkan pekerjaanku saat ini. Hmm..ternyata aku bodoh yaa.. udah dikasih banyak nikmat yang gak semua orang miliki, eh..malah kufur. janji deh, aku bakal terus memperbaiki diri. Paling nggak, curhatan mereka udah menyentil hati kecilku untuk berhenti mengeluh. Inget kata Papaku, ' biarpun tempat kerjamu itu kecil, dan gajimu juga gak seberapa, yang penting kamu harus bersyukur bahwa kamu, dengan terbatasnya gajimu, masih bisa berbagi dengan banyak orang. Liat teman-temanmu yang masih menganggur, liat orang-orang di jalanan sana, kamu lebih baik dari mereka'. Iya ya, Papa bener juga.

Gak peduli aku ini cuma fresh graduate yang kerja di perusahaan kecil dan gaji yang gak besar, yang penting saat ini aku bisa jadi berguna buat banyak orang. Aku yakin bahwa aku bisa mengejar impian besarku menjadi seorang produser dari sebuah program TV yang dicintai masyarakat asal jangan cengeng dan pantang menyerah. Tapi yang paling paling penting dari semuanya : terus berdoa dengan ikhlas. Hmm..nih aku punya kata-kata bagus buat Iya' dan juga yang senasib dengannya, yang aku ambil dari fesbuknya ustad Ahmad Alhabsyi tadi pagi,'Boleh
jadi Allah mengabulkan harapan kita dengan tidak memberi apa yang kita inginkan, karena Dia Maha Tahu bahaya apa yang akan menimpa dibalik keinginan kita'. Buat Iya' sahabatku, kita punya mimpi yang besar..mimpi besar itu gak bisa diraih dengan hati dan jiwa yang kecil, jadi, untuk bisa menggapainya, kita mesti punya hati dan jiwa yang juga besar..jangan nyerah Ya'..liat kawanmu ini, semaksimal mungkin senyum selalu!hehehe..

Selasa, 20 Januari 2009

..Aku Bersyukur Punya Papa Seperti Papaku..

Pagi itu aku duduk di bangku nomor 2 dari depan patas AC 17, seperti biasa. Sepi banget. Paling cuma ada 10 orang didalamnya termasuk aku. Aku sibuk dengan handphone Nokia 6600 bekas adikku.Ya..hanya melihat-lihat saja teman-temanku di fesbuk. Tak berapa lama sms masuk. Kulihat siapa pengirimnya. Papa. "kamu dah nyampe mana?dah dapet bis?". Segera ku balas bahwa aku sudah aman di dalam bis dan baru mau akan melewati perempatan bulak kapal.

Setelah aku selesai dengan handphone-ku, aku kembali duduk manis dan menikmati perjalanan. Sekilas aku mendengar percakapan antara supir dan kernetnya. " AC-nya mati nih" kata si supir. "Yang didepan juga mati?" tanya sang kernet."Iya..gimana nih?mau balik tapi belom dapet setoran, diterusin..AC mati" Dalam hati aku bertanya-tanya, ada apa dengan bis yang kunaiki?benarkah AC-nya mati?.Kemudian aku memeriksa AC yang ada tepat diatas kepalaku. Yup, supir itu benar. AC-nya mati.

Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku lihat banyak penumpang turun karena menyadari bahwa AC dalam bis mati. Yang tersisa hanya tinggal berempat. Aku menunggu keputusan dari supir dan kernet bis itu. Karena secara pribadi, aku tak masalah dengan kondisi bis yang tanpa AC. Beberapa saat kemudian si kernet terlihat sibuk menenangkan penumpang yang juga akan ikut turun dan tiba-tiba si supir berteriak, 'Bayarnya cukup 5 ribu aja sama kaya non AC, nggak apa2, 5 ribu aja'. Spontan ada rasa miris hadir dalam hatiku. Mendapat potongan seribu mungkin tak berpengaruh bagi para penumpang, tapi uang seribu rupiah dikalikan jumlah penumpang itu sangat berarti bagi sang supir. Dan, jelas..potongan itu merugikan sang supir, ku tegaskan MERUGIKAN SUPIR, bukan perusahaaannya.

Aku hampir menitikkan air mata melihat usaha yang dilakukan supir dan kernetnya agar mereka bisa mendapatkan setoran dikondisi bis yang tanpa AC. Dengan susah payah Mereka meyakinkan penumpang untuk tidak turun berganti bis seraya berdoa agar bis itu juga tidak mogok dijalanan. Untunglah para penumpang rupanya masih memiliki kebaikan hati untuk tetap ada dalam bis.

Dari tempat dudukku, aku melihat wajah supir itu. Wajah yang renta dan mulai rapuh. Melihatnya, aku teringat papaku. Aku teringat bagaimana ia bekerja keras menghidupi kami. Aku teringat bagaimana ia sekuat tenaga membiayai aku hingga kini aku jadi sarjana. Dan..aku ingat betapa aku sering sekali berdebat dan melawannya. Aku bersyukur..karena aku tidak jadi turun dari bis yang AC-nya mati itu, aku bersyukur karena aku diberikan hati yang sensitif dan cengeng sehingga aku bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, satu hal yang terpenting.. walaupun papaku keras dalam mendidikku, aku bersyukur punya papa seperti papaku..jika boleh aku ungkapkan isi hatiku, "Pah..nda sayang sama papa,luv u so much.."

Senin, 05 Januari 2009

..Gue Pengen Kerja Dari Hati..

Hari ini adalah hari pertama gw masuk kerja lagi setelah libur tahun baru yang lumayan lama. Cuaca pagi ini cerah banget, sinar mataharinya terang dan menghangatkan. Harusnya sih gw bisa bersemangat memulai hari pertama kerja di tahun yang baru. Tapi entah kenapa gw menyikapinya dengan biasa-biasa aja, cenderung malas bahkan. Apa sebabnya ya? Pertanyaan itulah yang akhirnya muncul juga di otak gw dan sampe sekarang gw masih mereka-reka jawabannya.

Hmm..ketidaknyamanan yang mungkin sedang melanda diri gw dan menjadi sebab 'tidak bersemangat'nya pagi ini. Gw lagi merasa ga nyaman dengan pekerjaan yang sedang gw jalani saat ini. Apakah ini tandanya gw kufur nikmat ya??Hmm..kalo memang iya..y Allah, ampunilah aku.Satu lagi pertanyaan, apakah kenyamanan itu sama dengan syukur?Karena kata orang bijak,'ketika anda bisa bersyukur, maka otomatis anda akan merasa nyaman'.Hh..gw sedang dan selalu berusaha untuk tetap bersyukur pada apapun yang Allah berikan dalam hidup gw, termasuk takdir gw harus kerja di tempat ini. Tapi koq ya gw masih tetep berasa ga nyaman..

Letak persoalan yang sebenarnya bukan ada pada perusahaan atau jobdesk gw, tapi lebih ke faktor personalnya. Yang bikin bahaya, sampe detik ini gw belom menemukan apa sih yang sebenernya gw cari, apa sih yang membuat gw bahagia??Gw belum menemukan jati diri gw yang sesungguhnya, khususnya dalam menentukan karir.

Gw pernah punya impian masa kecil untuk keliling dunia beli boneka Barbie dan nampaknya dengan menjadi wartawan, gw bisa meraihnya. Maka, jadilah gw isi 'wartawan' di setiap kolom yang menanyakan tentang cita-cita. Semakin yakin pula gw dengan pilihan itu yang kemudian mengantarkan gw kuliah di fakultas ilmu komunikasi sekaligus berhasil jadi sarjana ilmu komunikasi. Harusnya sedikit lagi gw bisa mencapai cita-cita gw sebagai wartawan dan memang hampir terwujud dengan pekerjaan yang gw jalani saat ini. Tapi..semakin kesini, gw bukannya bersemangat, malah ragu. Apakah jalan yang gw pilih untuk jadi wartawan itu tepat??

Keraguan yang gw rasakan bukan muncul secara tiba2 melainkan dengan proses. Sebelum gw dinyatakan lulus sidang skripsi Agustus lalu, gw sudah melewati tahap terakhir rekrutmen pegawai di KanalOne, sebuah anak perusahaan Bakrie, dan dinyatakan lolos. Gak kebayang betapa senangnya hati gw saat itu,di bulan kelahiran gw, gw udah dapet kerja, yang bikin bangga lagi adalah sebelum gw lulus, gw dah dapet kerjaan. Tapi semuanya tiba-tiba berubah saat pihak KanalOne menunda tanda tangan kontrak dengan gw, alasan yang mereka kemukakan adalah renovasi kantor, dan lain sebagainya. Mereka menjanjikan waktu 2 minggu untuk memberi kabar lagi ke gw. Fine..ga masalah, gw bisa nunggu, lagipula gak cuma gw doank yang mengalami hal serupa, semua calon pegawainya pun merasakan. 2 minggu dari waktu yang dijanjikan, kabar itu belum juga muncul, sebulan kemudian juga tak ada tanda-tanda kepastian, lama-lama, gw mulai hopeless dan melepas harapan gw ke KanalOne yang sekarang berganti nama jadi Vivanews.

Gw mulai lagi dari awal untuk ngelamar kerjaan yang lain, ada kali selama sebulan sepi telepon dari perusahaan. Gw semakin hopeless tapi juga menikmati keadaan gw yang pengangguran, toh saat itu gw juga kan belom diwisuda. Gw bener2 jadi menikmati hidup sebagai jobseeker sekaligus pengangguran (kata orang), karena buat gw, gw bukanlah pengangguran, gw melakukan sesuatu bagi diri gw sendiri dan bisa jadi manfaat bagi orang lain, terutama nyokap gw. Ya iyalah, tiap hari kerjaan gw bantuin beliau jemur baju, nyapu, ngepel, nyetrika, dan cuci piring. Meskipun banyak orang bilang pekerjaan rumah tangga itu sepele, tapi bagi gw, yang terpenting adalah gw tetep bisa melakukan sesuatu dan apa yang gw kerjakan bisa ada manfaatnya. Sampe pada suatu hari Media Indonesia ngundang gw untuk ikutan tes calon reporter alias carep, ga diduga gw berhasil diterima disana.

Siapa sih yang nggak bangga bisa masuk ke perusahaan punyanya Surya Paloh itu??gw pun bangga pada awalnya meskipun status gw masih freelance. Hari itu hari pertama dan terakhir gw ada di Media Indonesia. Yah, semua orang pasti akan terkaget-kaget dengan keputusan gw yang dinilai terlalu cepat. Semua orang bingung dengan jalan pikiran gw. Tapi apa mau dikata keputusan itu sudah keluar. Konsekuensinya jelas gede, selain gw merusak nama almamater gw disana, gw juga terancam dimurkai Allah karena telah menyia-nyiakan rezeki yang udah dikasih. Gw juga bingung kalo ditanya kenapa gw bisa mengambil keputusan tersebut, mungkin kata hati gw yang menuntun seperti itu. Atau mungkin karena satu alasan ketidaknyamanan, gw juga nggak tahu pasti.

Sejak saat itu gw mulai galau dengan cita-cita gw. Gw mulai goyah dalam berpendirian. Dan menghasilkan satu pemikiran yang lain. Gw ga mau terlalu berambisi untuk jadi wartawan. Ya udahlah kerjaan apapun yang bikin gw nyaman akan gw terima. Masalahnya,kadang kenyamanan sering ga sejalan dengan kenyataan dan kondisi kehidupan. Gw pengen bekerja dari dan dengan hati tapi nanti jatuhnya gw jadi idealis dan itu terkadang berbenturan dengan kenyataan hidup dimana gw adalah harapan bagi orangtua gw meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Sekarang coba gw jawab arti kenyamanan bagi diri gw sendiri. Menurut gw, kenyamanan itu ga selalu harus ada di perusahaan besar dengan gaji besar dan dikuasai orang-orang besar, meski idealnya demikian. Nyaman adalah ketika gw bisa bekerja dengan keikhlasan dan sepenuh hati. Nyaman adalah ketika gw mendapatkan suntikan motivasi dari orang-orang disekitar lingkungan kerja gw. Dan nyaman adalah ketika gw mendapatkan gaji yang layak, yang bisa gw pergunakan tidak hanya bagi diri gw sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekitar gw. Nyaman adalah ketika gw bisa bersemangat pergi ke kantor. Nyaman adalah ketika gw bahagia dengan apa yang gw kerjakan. Itulah nyaman.

Gw terima tawaran kerja ditempat ini murni karena gw takut Allah marah ma gw. Ga ada alasan apapun selain karena Allah. Gw bener-bener mencoba bersyukur dengan rutinitas baru gw yang tiap pagi berangkat kerja dan ketemu macet. Susssaahh bgt ternyata. Susah untuk meredam idealisme gw sendiri. Dan sangat sulit buat gw menemukan kenyamanan di tempat ini. Buat gw bekerja disini memang lebih membuat gw bisa 'memaksakan' kenyamanan ketimbang di Media Indonesia.

Disana, meskipun perusahaan itu besar, dikuasai orang besar, tapi gw sangat terganggu dengan jarak tempuhnya yang jauh banget dari rumah gw. Ngekos??bisa memang tapi itu juga mengandung konsekuensi, yakni gw ga bisa merhatiin kucing-kucing gw. Gw pun ga suka dengan peraturan yang mewajibkan gw pake kostum item putih ditengah karyawan lain yang pake kemeja biru bertulisakan 'MetroTV' atau 'Media Indonesia'. Perbedaan status antara karyawan tetap dan karyawan kontrak tuh ketara banget. Padahal baik yang freelance ataupun tetap, kita sama-sama kerja buat Media Indonesia. Sampe detik ini gw bener-bener nggak bisa ngerti kenapa ada pembedaan kostum kaya gitu di sebuah perusahaan.

Nggak taulah gw ini sebenernya mau jadi apa. Mungkin iya gw terlalu idealis. Satu-satunya cara ampuh yang sedang gw lakukan untuk meredam semua ini adalah terus berdoa dan meminta agar gw bener-bener termasuk ke dalam golongannya orang-orang yang bersyukur. Semoga suatu hari nanti, kenyamanan itu akan gw temukan.Aminn...

Rabu, 31 Desember 2008

Tulisan Firda Di Penghujung 2008..

Jalanan Jakarta pagi tadi terasa sangat lengang. Mobil-mobil masih cukup banyak berseliweran tapi tak sepadat hari biasanya. Tak ada macet, tak ada pula kesibukan berarti.Cuacanya pun teduh, berbeda dari hari-hari kemarin. Cukup dimaklumi memang karena hari ini adalah hari terakhir di penghujung tahun 2008.

Di dalam bis kota, aku memandang ke luar jendela. Sepi, lega, dan mobil melaju tanpa tersendat sedikitpun.Seorang seniman jalanan menambah teduh suasana dengan lagu 'alhamdulillah' nya Opick. Pikiranku kemudian menerawang ke belakang. Teringat berbagai peristiwa selama satu tahun ini dimana segala suka dan duka selalu berbaur jadi satu cerita.

Dimulai dari kisah cintaku yang tak begitu mujur tahun ini.Putus cinta memang tak membuat aku hancur tapi menyisakan trauma yang cukup lumayan. Orang-orang baru datang dan pergi silih berganti mencoba meluluhkan kerasnya hatiku. Namun sayang, belum ada yang berhasil. Ada yang hampir berhasil tapi gagal juga.Bukan karena mereka tak baik tapi karena memang hati ini saja yang belum terketuk. Entah sampai kapan aku berjalan sendiri, yang pasti aku tetap bisa menikmatinya.

Lalu ingatanku tertuju pada masa kuliahku di semester-semester terakhir. Betapa kagetnya aku ketika tertulis di papan pengumuman nama dosen yang akan membimbing skripsiku. Dra.Sri Fatmawati Mashoedi. APAA???si 'Sari Whiteshoes' itu??Whiteshoes adalah grup band indie yang mengusung penampilan dan tema lagu era 80an, nah, potongan rambut Bu Sri itu juga era tahun 80an, jadilah kusebut ia demikian. Beliau adalah dosen psikologi komunikasi saat aku berada di semester 3. Gaya berbusananya yang jadul selalu jadi bahan ejekan di kelasku. Apalagi caranya mengajar juga bisa terbilang kolot dan termasuk ke dalam daftar dosen 'killer'. Banyak yang anti dan berdoa agar beliau bukanlah dosen pembimbing mereka, termasuk aku. Tapi apa mau dikata ketika kenyataan justru berkata sebaliknya. Aku berada di bawah bimbingannya.

Saat pertama kali brainstorming dengannya, jujur aku sangat ngeri dan takut karena selain disiplin, beliau tipikal doesn yang perfeksionis.Untunglah, 3 judul yang kuajukan, salah satunya membuatnya tertarik dan tanpa banyak kesulitan, beliau langsung memberikan tanda tangan persetujuan judul.Lama kelamaan aku mulai dekat dengannya dan ternyata penilaianku terhadapnya selama ini salah. Beliau tak seperti yang terlihat diluarnya.

Bu Sri itu baik dan sangat keibuan. Sangat sabar dalam memberikan bimbingan dan benar-benar demokratis, beliau mau menerima argumenku. Alhasil, penyusunan skripsiku menjadi sangat cepat meski sempat menemui berbagai kesulitan. Bu Sri adalah salah satu orang yang mengantarkan perjuanganku meraih titel Sarjana Ilmu Komunikasi tepat pada waktunya. Dan kini, aku merindukannya.

Airmataku perlahan jatuh saat cerita ini melintas dalam memoriku. Satu cerita dimana aku harus kehilangan nenekku untuk selamanya. Aku pernah berjanji dalam hati, kelak jika aku sudah punya gaji, aku akan membelikan apapun yang beliau minta. Tapi, sayang..belum sampai niat itu terwujud, ia sudah pergi. Terbersit penyesalan di hati namun sudahlah mungkin ini yang terbaik.Pengalamanku mendampingi beliau dari awal sakit hingga kematiannya merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku. Untuk pertama kalinya, semangatku untuk jadi jurnalis terbakar ketika aku mendapati perlakuan sebuah rumah sakit umum di kota Cirebon yang sangat tidak menyenangkan. Bagaimana bisa orang-orang di rumah sakit itu tega menelantarkan nenekku yang sedang sekarat hanya karena beliau dianggap miskin dengan menggunakan askes???Dimana sisi kemanusiaan merekaa??Hampir kalap aku saat itu kalau saja sepupu-sepupuku tidak datang menenangkanku. Walaupun pada akhirnya beliau harus pergi, aku bersyukur, derita itu akhirnya lepas sudah.

Perjalananku selama satu tahun ini ditutup dengan pengesahan gelar sarjanaku 2 minggu lalu. Tak terlukiskan betapa bangganya aku bisa menyelesaikan kuliahku yang 4 tahun itu. Begitu mengharukan sekaligus memberikan pengharapan yang baru. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini, khusus kutujukan padaNya. 'Alhamdullillah' yang dinyanyikan seniman itu menggugah hatiku untuk tetap bersemangat melanjutkan hidup di tahun baru yang beberapa jam lagi akan dimulai. Satu resolusi yang ada dalam hatiku adalah semoga aku menjadi lebih baik dan mendapatkan segala yang terbaik dalam hidup..amin..

Selasa, 30 Desember 2008

Yang Tak Tergantikan

Rintik hujan malam ini sungguh terasa berbeda dari sebelumnya.4 Desember 2008,hari ini, genap 3 tahun ia meninggalkanku. Sosok yang aku sayangi telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi disisiku. Entah bagaimana aku harus ungkap perasaanku, yang pasti hingga kini aku belum menemukan penggantinya.

Teringat dengan jelas caranya menunjukkan cinta. Bagi sebagian orang mungkin terlihat kaku, tapi bagiku sungguh berkesan. Ia yang tak banyak bilang cinta, selalu tenang dan setia disampingku benar-benar membuat aku hampir gila karena pesonanya. Tak banyak yang sepertinya dan karena itu pula dia tak tergantikan.

Kini, aku berjalan sendirian.Bagai memiliki sayap-sayap patah, jalanku menjadi tak seimbang. Aku terus mencoba bangkit dan menatap ke depan. Entah sampai kapan aku akan terus mencoba, tapi sepertinya tetap sama, aku masih mencintainya, kemarin, hari ini, ataupun nanti. Walaupun ku tahu, dia sudah tenang ada disana.

Kamis, 25 Desember 2008

Lentera Jiwa by Andy F.Noya

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena pecah kongsi dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Adit ya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.