Selasa, 22 Juni 2010

Gli Azzurri & Mitos Keberuntungan..

Emosiku seketika meledak saat menyaksikan babak penyisihan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan di Grup F antara Italia melawan Selandia Baru, kemarin malam (20/6). Betapa tidak, pertandingan baru beberapa menit dimulai Italia –juara dunia 4 kali- sudah kecolongan gol akibat tendangan striker Selandia Baru, Shane Smeltz ke gawang yang dijaga kiper pemula Federico Marchetti. Huuuuuhhhhh..sebagai tiffosi setia aku cukup kesal sekaligus mengamini keraguan banyak orang terhadap performa juara dunia tahun 2006 itu. Italia tak lagi solid sebagai tim yang menganut tradisi sepak bola bertahan alias catenaccio, lansir beberapa media olahraga asing. 

Bersamaan dengan itu, handphone-ku kebanjiran SMS berisi ejekan terhadap Gli Azzurri, pun hal-nya dengan halaman Facebook-ku yang juga kebanjiran ejekan dari postingan komentar teman-teman. Yaa..aku tak peduli. Bagiku, Italia tetap nomor satu di hati. (ceileeee…). Sedang asyiknya aku me-reply comment, tiba-tiba aku dikejutkan dengan aksi Tommy Smith yang menjatuhkan Danielle de Rossi di area terlarang sehingga menyebabkan wasit Carlos Batres (asal Guatemala) menghadiahkan penalti bagi Italia. Vincenzo Iaquinta yang mendapat tugas tersebut pun berhasil mengecoh kiper nomor 1 Selandia Baru, Mark Paston dan kedudukan imbang 1-1. Lewat penalti inilah, kepercayaan diri Fabio Cannavaro dkk mulai bangkit kembali dengan menggencarkan serangan ke gawang Selandia Baru. Aku sebagai penonton juga ikut bersemangat, optimis bahwa Italia pasti mampu. 

Memasuki babak kedua, sang allenatore Marcello Lippi merombak susunan pemain terutama di lini tengah dengan memasukkan Mauro Camoranessi dan Antonio di Natale menggantikan Simone Pepe dan Alberto Gilardino yang tidak bisa menjalankan perannya dengan baik. Masuknya 2 pemain senior ini cukup memberi warna pada ritme permainan Italia yang membosankan di babak pertama. Bersama Riccardo Montolivo, duo playmaker ini berkali-kali mengancam gawang lawan. Namun, apa daya..skor tidak berubah hingga akhir pertandingan. 

Hasil imbang ini sekaligus membuat sang juara bertahan berada diujung tanduk. Mau tidak mau, di laga pamungkas melawan Slovakia, Italia harus meraih poin penuh jika ingin terus melaju ke babak 16 besar. Sebenarnya ada apa denganmu, gli azzurri? Menilik dari pertandingan tadi malam, (meski aku bukan seorang pakar, -hanya pecinta bola-) aku mencatat beberapa poin penting. Pertama, skuad Italia yang dibawa Lippi pada Piala Dunia kali ini berbeda dengan 2006 lalu di Jerman dimana saat itu Italia diperkuat bintang-bintang jaminan juara seperti Francesco Totti, Andrea Pirlo, Alessandro del Piero, Filippo Inzaghi, Alessandro Nesta, Marco Materazzi, Genarro Gattuso, dan lain-lain. Sungguh jauh berbeda dengan sekarang yang lebih banyak diisi pemain-pemain muda minim pengalaman di kancah internasional. 

Masalah kedua yang dihadapi Italia adalah tidak maksimalnya penampilan Buffon akibat cedera punggung yang dideritanya. Pada pertandingan penyisihan pertama Grup F melawan Paraguay, Buffon masih berada di bawah mistar gawang hingga hampir babak kedua usai sebelum akhirnya tumbang dan tidak kuat lagi bermain. Alhasil, Buffon harus menjalani pemulihan selama kurun waktu yang tidak ditentukan dan hampir bisa dipastikan absen pada sisa pertandingan piala dunia. Sebenarnya, jika Lippi masih memiliki cadangan kiper sekelas Buffon, tentu cederanya kiper terbaik dunia versi federasi internasional sejarah dan statistik sepak bola (IFFHS) ini tidak akan menjadi masalah besar dikubu Italia. 

Problem yang dihadapi negeri pizza ini semakin pelik dengan mandulnya barisan depan yang diisi pemain-pemain muda seperti Antonio Di Natale, Alberto Gilardino, Vincenzo Iaquinta, Giampaolo Pazzini, dan Fabio Quagliarella. Kualitas mereka belum bisa menyamai seniornya sekelas Alessandro del Piero, Filippo Inzaghi, dan Franscesco Totti. Demikian hal-nya di sektor gelandang. Meski Montolivo digadang sebagai titisan Pirlo, kelasnya masih jauh dibawah pendahulunya itu. 

Wajar saja jika pada akhirnya Italia mendapat cibiran, ejekan, maupun kecaman dari seluruh dunia. “ Masa juara dunia cuma bisa dapet hasil seri sih, di babak penyisihan lagi, dengan lawan tim-tim non unggulan pula “ ujar seorang teman. Emang susah ya menjaga nama besar dan reputasi?Hehehe..Nggak sadar juga kali tuh yang ngomong kalau bola itu bundar, kalau dalam sebuah pertandingan harus ada yang menang dan kalah, kalau dalam sebuah turnamen itu apa aja bisa terjadi?Semua menginginkan proses dan hasil yang sempurna bagi sang juara padahal kan, nggak melulu juara tetap jadi juara dan pecundang tak bisa jadi juara, ya kan?Italia kini disebut sebagai tim pecundang yang mengemis pada wasit gara-gara penalti di laga melawan anak-anak asuhan Rikky Herbert itu. Italia dikecam karena hanya bisa mencetak gol lewat penalti. Italia become a loser, umpat banyak orang.

Sebagai pecinta sepakbola Italy, aku cukup ‘panas’ mendengar kalimat itu. Terserah jika pemikiranku ini diartikan sebagai ‘pembelaan’ tapi bagiku, Italia adalah sebuah tim yang dinaugi banyak sekali keberuntungan. Mau orang lain memandang sebelah mata soal ‘faktor x’ yang satu ini?Aku tak ambil pusing. Nyatanya, mitos ‘keberuntungan’ atau ‘keajaiban’ atau apapunlah sebutan sejenis lainnya, terkadang menjadi suatu kunci kesuksesan sebuah tim menjadi juara. Lihat saja bagaimana Spanyol dan Jerman, 2 tim favorit juara, dikalahkan oleh tim-tim sekelas Swiss dan Serbia yang notabene-nya bukan lawan sepadan pada kualifikasi piala dunia tahun ini. Baik diatas kertas maupun kualitas pemain serta permainan, Spanyol dan Jerman memang layak diunggulkan. Tapi apa yang terjadi?Secara mengejutkan mereka dikalahkan lawan yang dianggap ‘tidak sepadan’ itu. Contoh lain ketika Lukas Podolski, bintang asal Jerman itu, tidak bisa menahan imbang Serbia karena gagal menyelesaikan hadiah penalti ke gawang yang dijaga Vladimir Stojkovic. Kenapa hanya Italia yang dicaci?Hmm..Mungkin karena banyak yang iri atas keberuntungan yang dimilikinya..hehehe..bisa jadi kan?. Italia tentu tidak lebih baik dari Jerman atau Spanyol tapi unggul dalam ‘the lucky factor’, setidaknya ia belum pernah kalah dibabak penyisihan. 

Terlepas dari semua problem yang dihadapi Italia di musim piala dunia kali ini, kayaknya yang namanya ‘the lucky factor’ mengambil peran cukup penting dalam sebuah pertandingan. Emang sih, untuk jadi juara Italia nggak bisa hanya mengandalkan si lucky itu tadi, mereka harus berbenah memperbaiki kualitas permainan. Nah, pembuktiannya ada pada laga pamungkas melawan Slovakia, 24 Juni mendatang. Jika Italia menang, apakah itu murni karena hadiah penalti (lagi) atau memang menunjukkan kualitasnya sebagai juara bertahan?Jika kalah, yaa..sekali lagi..tinggal tunggu keajaiban dari partai Paraguay kontra Selandia Baru tentunya.Apapun hasilnya, I still love you, gli azzurri..


















Senin, 21 Juni 2010

Pondok Baronang : Seafood For All!

Bagi anda penggemar seafood tak lengkap rasanya jika belum datang ke Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta. Disana, ada sebuah restoran seafood yang bakal membuat anda ketagihan. Penasaran ? 

Sekilas tak ada yang menarik saat melihat restoran ini dari luar. Bisa dibilang hampir tak ada yang istimewa dari segi desain bangunannya. Hanya ada seekor burung beo dalam sangkar didepan bangunan ber-cat kuning itu. Mungkin kehadiran burung inilah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Pondok Baronang-nama restoran ini- dibandingkan restoran lain di sekitarnya. Sang empunya, Rusli Pattaraja, memang membuat konsep restorannya se-simpel mungkin, terutama soal desain interiornya. 

“ Saya memang tidak ingin menghiasi bangunan ini dengan gaya yang macam-macam karena yang saya jual disini adalah cita rasa dan kualitas pelayannan. Yang penting semuanya bersih, higienis, dan orang merasa nyaman datang kesini “ ujar pria yang akrab disapa Daeng Rusli ini. 

Kesederhanaan interior, lanjut Daeng Rusli, justru dijadikan keunggulan bagi Pondok Baronang karena dari situ orang menjadi penasaran ingin mencoba. “ Orang-orang tentu penasaran, koq tempatnya begini tapi banyak yang datang, disitulah saya coba tarik hikmah positif saja “ ungkapnya. Menurutnya, bisnis restoran intinya adalah soal rasa bukan interior atau penampilan semata. Meski demikian, ia pun tetap memerhatikan kebersihan dan kenyamanan tempatnya.  

Ucapan Daeng Rusli soal kekuatan cita rasa memang dapat dibuktikan. Sederet menu hidangan laut spesial bisa anda pilih diantaranya Udang Gala Bakar, Ikan Baronang Bakar, Ikan Bawal Goreng, Cumi Goreng, Kerang Ijo Bumbu Saos Padang, Cumi Telur Bakar, dan Kepiting Saos Padang. Baik udang, ikan, kepiting, cumi, maupun kerang, semuanya hasil tangkapan yang masih segar. “ Paling lama disimpan 3 hari, itupun untuk jenis ikan tertentu, lewat dari itu tidak bisa kami pakai karena kami ingin semuanya masih segar ketika diolah “ kata Daeng Rusli yang mengaku bisa menghabiskan 1 kwintal lebih bahan laut dalam sehari. Pemilihan bahan tersebut juga sangat diperhatikan olehnya, terlebih bagi jenis udang dan kepiting. “ Seperti misalnya untuk udang gala, yang bagus itu yang berwarna kehijauan dan isi kepalanya penuh “ tuturnya. Cara pengolahannya pun tak boleh asal-asalan karena sangat berpengaruh terhadap cita rasa yang dihasilkan. 

Seperti Udang Gala Bakar contohnya. Berbeda dari biasanya, udang gala dibakar tidak mengenai arang secara langsung melainkan dilapisi oleh daun pisang sambil diolesi bumbu spesial racikan Daeng Rusli. “ Daun pisangnya ini yang membuat aroma serta bumbu cepat meresap “ ucap pria yang pernah 10 tahun bekerja sebagai koki ini. Kepala udangnya juga tidak serta merta ia buang karena ternyata udang memiliki telur dibagian kepalanya yang sangat nikmat bila disantap. “ Bagian ini yang paling dicari “ kata Daeng Rusli sembari menunjuk isi kepala udang tersebut. Bagaimana rasanya? Hmm..luarbiasa lezat dan gurih. Kelezatannya masih ditambah lagi dengan sambal pelengkap yang disebut sambal acar. Sambal acar terbuat dari campuran sambal terasi, mangga, irisan cabe merah, bawang, dan tomat. Sensasi antara rasa asam mangga dengan pedasnya sambal terasi membuat lidah ini rasanya tak mau berhenti bergoyang. Sambal acar juga cocok menemani menu utama lainnya seperti ikan, cumi, kerang, dan kepiting. 

Menu bakaran lain yang tak kalah menggoda adalah Cumi Telur Bakar. Cumi dipilih yang mempunyai telur agar rasanya semakin gurih. Tapi yang paling istimewa adalah racikan bumbunya. Bumbu cumi ini dimasak menggunakan madu sehingga rasanya benar-benar lain daripada yang lain. Aditya Rama, 35, salah satu pengunjung mengakui kelezatannya. “ Rasanya mantab banget, nggak ada deh yang rasanya seenak ini “ akunya. Dari semua restoran seafood yang pernah ia datangi, Pondok Baronang-lah yang dipilihnya sebagai jawara. “ Meski tempatnya biasa aja tapi rasanya itu luar biasa “ puji pria yang akrab disapa Adit ini. 

Sajian lain yang juga menarik adalah Ikan Bawal Goreng dan Cumi Goreng. Tak seperti ikan goreng kebanyakan, Ikan Bawal Goreng ini terasa renyah hingga ke tulangnya. “ Semua bagian ikan, bahkan tulangnya sekalipun, semuanya bisa dimakan sampai habis “ kata Daeng Rusli.Begitu juga dengan Cumi Gorengnya, terasa lembut dan gurih. Tenang saja, minyak yang digunakan bukan minyak jelantah atau minyak bekas pakai sehingga aman bagi kesehatan. “ Disini tidak ada yang seperti itu, semuanya fresh dan sehat “ lanjut Daeng Rusli. 

Bosan dengan hidangan bakar dan goreng?Cobalah menu Kepiting dan Kerang Ijo Saos Padang. Kepiting yang digunakan merupakan kepiting premium kelas satu yang memiliki kualitas terbaik. Salah satu ciri kepiting yang baik terlihat dari permukaan badannya yang tidak lembek dan berwarna kemerahan. Sedangkan kerang ijo-nya juga memiliki mutu yang prima. “ Semuanya didatangkan langsung dari perairan luar Jawa dan harus kualitas nomor satu “ tandas Daeng Rusli. Saos Padang-nya sendiri dibuat dari campuran rempah-rempah seperti bawang bombay, tomat, bawang, cabe, dan beberapa resep khusus asli buatan sang pemilik. Untuk minumannya, anda bisa coba Es Jeruk dan Es Teh Manis ala Pondok Baronang. Es Jeruk-nya terasa seperti minuman hotel bintang lima sedangkan rasa manis dari Es Teh Manis-nya kental dengan aroma buah melon. Sebagai teman bersantap, kedua jenis minuman ini layak dipilih. 

Meski menggunakan kualitas bahan nomor satu, harga makanannya tergolong murah. Sajian ikan misalnya, dibanderol antara Rp.28.000 – Rp.48.000/porsi, kepiting di kisaran Rp.60 ribuan/porsi, dan menu paling mahalnya yakni udang gala seharga Rp.75.000/ porsi. “ Soal harga, kami cukup bersaing, bahkan sedikit lebih murah “ ucap Daeng Rusli. Lantaran inilah, Pondok Baronang menjadi salah satu restoran favorit selebritis ternama. Sebut saja Mandala A.Shoji, Poppy Bunga, Surya Saputra, Yadi Sembako, dan sejumlah artis lainnya pernah mampir kesini. “ Mereka tadinya mampir lalu lama-lama jadi pelanggan “ katanya. Tak ayal, usaha yang sudah digeluti Daeng Rusli selama hampir 10 tahun ini terus menunjukkan perkembangan signifikan dengan rencana membuka cabang baru di Cisarua, Bogor. “ Doakan saja akhir tahun sudah jadi “ tandasnya. Pondok baronang buka setiap hari dari pukul 09.30 – 21.30 WIB.


Dimuat juga di Harian Seputar Indonesia, Juni 2010

Kapan Yaaa...????Hmmm....

Hari ini,13 Juni 2010,salah satu temanku,Novi,menikah.Aku mengingatnya sebagai teman kecilku yang baik,lucu,dan selalu tampil apa adanya.Bersama Icha,kami bertiga bak satu paket yang tidak bisa dipisahkan.Teringat beribu kisahku dengannya. Indah.Sangat indah. Aku ingat saat bulan puasa tiba,10 tahun lalu.Novi,yang saat itu sudah punya pacar,selalu mengajakku berkeliling naik sepeda hanya untuk melihat rumah pacarnya sehabis sahur.Hampir setiap hari,semasa liburan,kami main bersama dari pagi hingga magrib menjelang.Segala cerita suka dan duka pernah kami lalui bersama, terbingkai dalam satu potret kenangan manis.Tapi,hanya sebentar. 

Waktu terus berputar membawa kami ke masa depan dan perlahan kebersamaan kami kian pudar.Mungkin karena kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing atau begitu banyak peristiwa terjadi.Entah aku yang menjauh dari mereka atau mereka yang menjauhiku atau memang sikonlah yang pisahkan kami.Yang jelas,jadilah kami tak pernah lagi saling sua,khususnya aku dan Novi (karena aku masih tetap dekat dengan Icha).Dimataku,Novi sudah berubah sangat berbeda.Ia memang masih dengan sifatnya yang 'cablak' tapi gaya hidupnya sangat bertolak belakang denganku. Novi kecil bercita-cita menjadi artis dan kini,ia hampir meraihnya.Ditunjang dengan paras cantik tentu saja ia mampu mewujudkan keinginannya itu. Tak hanya itu, dia juga sukses mendapatkan jodoh yang pas dengan impiannya,seorang pria kaya raya berhati baik dan sabar.Semua tentangnya terlihat begitu sempurna dan aku bahagia karenanya.Meski ia seakan 'melupakan' aku dan Icha sebagai sahabat yang pernah begitu dekat dengannya, aku tetap menaruh rasa kagum serta bahagia.  

Novi sudah resmi menjadi seorang istri siang ini.Pun halnya dengan Nita awal bulan lalu dan Cici pertengahan bulan Juli nanti. Oh ya, Nita dan Cici, meski tidak begitu karib dengan Icha dan Novi, pernah menjadi sahabat kental semasa remajaku, terlebih Cici. Ya, karena kami satu sekolah, jadilah kami selalu pergi dan pulang sekolah bersama selama hampir 2 tahun lebih.Tak ubahnya dengan Novi, persahabatan aku dan Cici juga sungguh berkesan.Hingga akhirnya Cici harus pindah ke Bandung, barulah kami benar-benar 'berjarak'.  

Aku kembali bertemu dengannya lewat situs jejaring sosial Facebook beberapa waktu lalu. Di media itulah,Cici bercerita bahwa ia akan menikah bulan depan sehingga total 3 dari 4 sahabat kecilku menikah di waktu yang berdekatan.Sekali lagi,tentu aku merasa begitu bahagia sekaligus 'terkejut'. Terkejut karena ternyata sang waktu berjalan sangat cepat dan telah membawaku pada suatu masa dimana pernikahan adalah sesuatu yang sudah boleh aku wujudkan.Sudah boleh?Ya,sudah boleh menurut prinsipku sendiri yang ingin menikah ketika aku berhasil jadi sarjana dan meraih cita-citaku sebagai reporter.  

Icha?Bagaimana nasib sahabatku yang satu itu?Apakah dia juga akan menikah dalam waktu dekat?Sepertinya belum.Meski kini kami jarang bersua karena kesibukan masing-masing, aku tahu betul siapa Icha, bagaimana kisah cintanya, siapa pacarnya sekarang,dan lain-lain. Boleh dibilang, Icha adalah salah seorang dari sedikitnya orang yang aku percayai sebagai ' sahabat '.  

Kisah tragis perjalanan cintanya hampir mirip dengan kisahku walau harus kuakui kisahnya jauh lebih menyakitkan.Berkali-kali dikhianati membuatnya jatuh dalam keterpurukan. Parahnya, ia hampir tak ingin lagi jatuh cinta alias mati rasa. Pertama kali aku melihatnya frustasi dan menangis sejadi-jadinya ketika ia ditinggal menikah oleh sang kekasih. Ia tiba-tiba mendatangiku sambil memeluk dan menangis histeris. Aku tak lagi melihat keceriaannya selama beberapa waktu setelah kejadian itu. Yah..ternyata cinta memang begitu dahsyat.Bisa melambungkan angan seseorang setinggi langit sekaligus menjatuhkannya ke dasar perut bumi. 

Aku dan Icha merasa begitu senasib. Kami memiliki rasa yang sama akibat trauma menyakitkan yang pernah kami alami. Alhasil, kami jadi sering bersama. Kemana-mana pergi berdua, malam minggu pun kami jalan-jalan menggunakan vespa berdua. Tak peduli apa kata orang tentang kami, yang jelas cinta begitu menyakitkan bagi kami, saat itu. Icha-lah sahabat yang paling mampu memahamiku baik dikala aku sedang senang, sedih, marah, ataupun takut. Chemistry antara aku dan dia sangat kuat sehingga,tak perlu kami sering bertemu seperti dulu pun, kami tetap merasa dekat.  

Icha sekarang baru menjalin kasih lagi dengan seorang pria asal Tangerang. Aku tidak perlu tahu bagaimana detailnya tapi yang aku tahu dia bahagia.Dia, begitu pula aku, tak akan lagi ulangi kesalahan yang sama. Maka wajarlah jika dia sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk menikah. " Aduh da..ntar deh kalau gue udah bener-bener yakin baru gue mau nikah. Sekarang gue masih trauma gara-gara dikasih harapan nikah eh..taunya gagal " kata Icha kala itu. Icha hanya tidak ingin kembali terpuruk dengan harapannya sendiri. Itu aja.  

Lantas bagaimana dengan diriku sendiri?Kapan aku akan menikah?Hmm..pertanyaan yang sulit sekali kujawab. Perkara menikah sejatinya sudah ketentuan Allah yang kuasa. Aku hanya tinggal berikhtiar dan berdoa. Dulu, aku sama sekali tidak memikirkan hal yang satu ini karena kupikir masih terlalu jauh untuk berpikir kesana. Tapi setelah sang waktu membawaku jauh ke depan dengan segala realitas yang ada, aku mulai terbersit untuk mewujudkannya.Ahh..semua orang pasti akan kaget mendengar ucapanku ini "aku mau nikah secepatnya ".Hehehe..siapapun yang mengenalku tentu terheran-heran mendengarnya karena aku,dimata teman-temanku,adalah seorang wanita aneh yang menempatkan menikah sebagai prioritas kesekian jauh dibawah karier.  

Satu hal yang membuatku berubah pikiran untuk menikah muda -selain pengaruh lingkungan- adalah kehadiran pria yang sudah dekat denganku hampir 1,5 tahun terakhir. Aku benar-benar menyerah pada cintanya. He's like a gift from God.Dan aku rela dipersunting olehnya. Entah bagaimana caranya, aku hanya meyakini satu hal : Allah akan beri aku waktu yang tepat untuk bisa menikah. Karena pengetahuanku amat minim maka kuserahkan saja semua kepada Dia Yang Maha Tahu segalanya. Yang jelas, aku juga ingin segera menikah untuk menyempurnakan agamaku. Tuhanku, kabulkanlah lagi 1 pintaku itu. Please.. (mupeng.com juga ceritanyaaa..hehe..)


Jumat, 24 Juli 2009

I Just Wanna Be Happy With Him, Enough..

Hampir setahun berlalu saat-saat dimana aku berjuang keras merampungkan skripsiku. Masih terekam dalam ingatanku bagaimana aku harus datang jam 7 malam hanya untuk minta tanda tangan dosen pembimbing. Ketika itu hujan turun cukup deras.Payung, alat yang harusnya jadi pelindungku, selalu luput dari perhatianku manakala aku sangat sadar bahwa awan mendung bergelayut tepat diatas kepalaku.

Bodoh memang. Yaa, dan karena kebodohanku itu, aku harus jalan kaki ujan-ujanan dari kolong Karet hingga Sudirman Park. Kebetulan juga kondisi jalanan macet total gara-gara banjir. Tak mungkin aku memaksa naek angkot, bemo, atau ojek saat jarum jam menunjukkan pukul 18.45 dan keadaan lalu lintas lagi kacau-kacaunya. Dosenku super sibuk dan beliau tak suka mahasiswa bimbingannya datang terlambat karena (katanya) menunggu adalah pembuangan waktu secara sia-sia. Alhasil, aku andalkan saja dua kaki ciptaanNya yang maha sempurna ini untuk sampai di tujuan dengan selamat dan tepat waktu. Hupff.. ternyata lumayan juga pegelnya.

Kebayang dong tampilanku waktu itu, persis kaya tikus kecebur got. Bodo amat deh. Demi skripsi, pikirku. Tapi apa yang terjadi ketika aku baru bisa melihat handphone-ku dan ada 1 SMS masuk. Dosenku. "Firda, maaf ya sepertinya saya tidak bisa datang ke LSPR malam ini karena terjebak macet di warung buncit.Mengenai tanda tangan saya, kamu bisa ketemu saya besok di UI dari jam 10 pagi.trims." DAMNED!!!!!!!!Ga jadi datengg????Macet di Warung Buncit?????Ke UI???Besok???Jam 10????Hhhhhh..ampuuunnnnnnn.....

Jadi, pengorbananku sia-sia gituu??Bela-belain jalan kaki biar gak telat ternyata ga jadi aja ketemuannya?Dan ironisnya hanya untuk minta tanda tangan???Oh, My God!!Hh..campur aduk tuh rasanya pas tahu kenyataan yang terjadi. Ya kesel, marah, dongkol, bete. Pengen nangis banget tapi gak ada siapa-siapa didekatku, gak ada yang minjemin bahunya, gak asik ah. Aku berusaha menenangkan emosi jiwaku.

Hal pertama yang aku lakukan, minum sebotol air putih. Pengennya sih segalon aja biar sekalian kembung dan kemarahan mereda. Tapi apa daya, galonnya tak tersedia jika hanya akan diminum satu orang mungil sepertiku.

Perlahan aku coba mengatur nafas dan memutuskan apa yang selanjutnya aku lakukan, langsung pulang-kah ditengah gerimis mengundang dan jalanan sedang macet-macetnya?Atau tetap di sofa kantin sambil menunggu jalanan kembali lancar?Atau bagaimana?Aku mengamati sekeliling dan pandanganku lalu tertuju pada gedung menjulang didepan jendela. Di luar sana tertulis sebuah nama. Bisnis Indonesia.

Ya, disana, tepat 8 bulan lalu, aku memulai begitu banyak cerita. Berawal dari tugas mata kuliah Internship, aku terdampar di lantai 7 perusahaan media milik Soebronto Laras itu. Ketika itu, Rahmayulis Saleh, atau kerap disapa Bunda, menjadi atasanku. Dan aku resmi menjadi mahasiswa magang di bagian sekretariat Redaksi. Tapi, lebih dari itu, aku merasa menjadi seorang pecundang.Keberadaanku disana selain karena andil besar ayahku dan juga keterpaksaan, kreativitasku sebagai mahasiswa jurnalistik hampir dimatikan oleh segudang tugas-tugas administrasi yang jauh dari ilmu yang kudapat.

Idealisme-ku kala itu masih berada di angka 9 dalam diriku. I like writing and i wanna be a journalist. Itu kemauanku, itu pilihanku. Aku berada pada sebuah perusahaan media massa tapi aku ada didalamnya bukan untuk belajar bagaimana menjadi jurnalis melainkan hanya mengerjakan tugas administrasi ringan dan belajar teknik fotokopi. Its very sad to me.

Hmm..tapi rupanya aku diberikan kecerdasan yang lain. Bukan maksud buat narsis, tapi aku yakin, setiap orang yang perfeksionis sekaligus idealis seperti diriku tak akan mudah menerima suatu hal diluar batas 'sempurna' dan 'ideal'itu sendiri, dan aku mampu. Dari sisi nalar religiusku, aku bisa berkata bahwa 'apapun bentuknya, sempurna atau tidak, ideal atau tidak, semua yang aku alami adalah baik menurutNya".

Sempurna buatku tentu lain buatNya. Ideal menurutku pasti berbeda dengan ideal menurutNya. Maka, pantaslah aku untuk berkaca pada diriku, mengakui bahwa aku memang jauh dari sempurna. Kayanya kok aku malu sendiri, masa aku yang jauh dari sempurna ini belagu bener kepengen dapetin segala sesuatu yang sempurna. Dari situ, aku yang tadinya bertekad bulat mengundurkan diri di hari ke-3 akhirnya berubah pikiran dan mulai menjalani hari-hariku di lantai 7 dengan semangat 'ketidaksempurnaan' yang aku bawa.

Eehh..manjur juga ternyata strategi perombakan cara pandang yang aku lakukan sampai-sampai aku seolah tak rela meninggalkan tempat itu ketika masa internship-ku habis. Semua seakan berbalik. Aku yang tadinya merasa terpaksa berubah jadi aku ingin tetap ada disana. "it would be different without you" begitu kata seorang teman. Dan, tentu..i feel the same with you. It would be different.But life must go on. Aku harus meninggalkan rutinitasku disana. Akan ada rindu dan selalu ada rindu di hatiku untuk Bisnis Indonesia.

Ah..kenapa aku jadi melow sih?Cepat sekali rasa dalam hatiku berubah, dari marah jadi melow, udah kaya channel TV aja yang bisa setiap saat di-switch. Tapi, bagus juga rasa kesalku jadi hilang seketika dan aku bisa kembali berpikir dengan jernih bak sebotol air putih yang baru saja kuteguk. Aku melirik jarum jam ditanganku. 20.15. Wah, sudah cukup larut. Dan itu artinya aku harus segera kembali ke rumah. Aku bergegas menuju jalan raya. Wow, masih saja macet. Otakku berpikir, jika aku paksakan pulang naik bis, bisa-bisa sampai dirumah lebih dari jam 10 malam.

Aku harus cari akal. Ahaa..tiba-tiba aku teringat seorang temanku di Bisnis dulu. Harry namanya. Aku merencanakan sesuatu. NEBENG. Yups..karena kebetulan rumahku dan rumahnya berada di kawasan yang sama. Dia pasti tak akan tega membiarkan cewek imut ini pulang sendirian bermacet-macet ria dalam bis. Aku menghubunginya dan ia berkata, "Ya udah, ya udah gue jemput sekarang, lo tunggu aja di depan". Tuh kan kubilang juga apa, ia tak akan tega. Hehehhe..

Jadilah aku pulang bersama beruangmadu - nickname Harry di ruang chat -. Diatas motor kami saling berbagi cerita. Sudah pasti aku bercerita tentang kejadian yang baru 2 jam kualami tadi. Sedangkan Harry bercerita tentang cewek baru kecengannya. Ditengah-tengah obrolan, Harry melontarkan candaan, " Fir, lo tuh maunya cowok yang berprofesi apa sih?Market analis yang kece ini ditolak, wartawan kaya mas Bambang juga sama aja, mahasiswa apalagi, jadi yang macam mana??Cari pacar sono biar ada yang nganterin!" Spontan kubalas ledekan Harry tadi, "Yee..bukan masalah profesi har, masalah hati nih.Ribet jadinya. Tapi kalo lo tanya soal profesi yang kaya gimana, i think journalist sexier than others",

"Lah, itu mas Bambang??", "Kan gw bilang, ini urusan hati, gak bisa ditebak maunya. Gw suka mas Bambang secara personal dan profesional, but no chemistry with him, so??" "Ah, bilang aja lo kebanyakan maunya, jangan gitu loh nanti ga laku-laku!" "Bukan banyak maunya, gue gak bisa maen-maen soal beginian, jadi mendingan nunggu daripada salah lagi" Eh, Harry malah ketawaketiwi aja tuh denger jawabanku, dia menganggap aku nggak bisa santai menjalani hidup, terlalu banyak mikir padahal didepan mata banyak yang sayang padaku, tinggal pilih salah satu aja susah banget.

"Wartawan Bisnis yang laen kan masih banyak tu stoknya, screening aja dulu" Jiahh..SCREENING??Hahahhaa..dikira ujian kali pake dibegituin. "Ogah ah, wartawan Bisnis potongannya sama semua" kataku dengan cueknya. "wah..jangan disamain dong, ntar kecantol salah satunya baru deh lo tau rasa!hahahhaha"balas Harry menutup obrolan kami malam itu.

Pertemuanku kini dengan seorang wartawan Bisnis Indonesia yang kemudian menjadi kekasihku mengingatkan aku pada candaan Harry menjelang pertengahan tahun 2008 lalu itu."Kecantol salah satunya". Aku tak percaya tentang adanya mitos kebetulan atau apa yang disebut "kemakan omongan", tapi aku percaya itulah jalan yang memang sudah direncanakanNya, ia dihadirkan pada saat yang pas juga dengan cara yang tepat.

Pada akhirnya aku memang bisa melepas jubah kesempurnaan itu dan mendapatkan sosok yang aku cari. Tentunya, aku tak lagi mencari sempurna, tapi aku mencari bahagia. Kutemukan itu saat bersamanya. Dan, jika kala itu aku mampu berjalan kaki ujan-ujanan dari Karet ke Sudirman Park hanya untuk sebuah tanda tangan dosenku, maka kini aku pasti mampu berjuang untuk sesuatu yang aku yakini, berjuang untuk cinta yang memang sudah sepantasnya diperjuangkan.

Wah, bener juga tuh kuis di Facebook tadi, dari ke sembilan tipe Enneagram manusia, katanya aku termasuk ke dalam tipe pejuang. Wah..wah..cocok dikirim ke Palestina nih..Tapi nggak ah, cukuplah bagiku dikirim ke hati seseorang untuk jadi pejuang cintanya.Once more, i just wanna be happy with him, enough..

Jumat, 30 Januari 2009

Balada Si Fresh Graduate

Waktu menunjukkan pukul satu lebih dua puluh menit dini hari. Harusnya aku udah tidur di jam segitu. Tapi karena aku sedang merindukan seseorang, maka jadilah aku mengaktifkan ebuddy, software messenger untuk HP, dan berselancar ria di dunia chatting. Tiba-tiba ada teks masuk dari seseorang. Iya' namanya.

Nama lengkapnya Eimiria Tamsyarina, cukup panggil aja dengan Iya'. Menurutku, dia orang yang setipe denganku untuk beberapa hal tertentu, salah satunya soal mengejar mimpi dan cita-cita. Kami sama-sama punya mimpi besar dan ambisi yang kuat. Bedanya, dia jauh lebih keras dan niatnya kenceng banget. Gak heran, akhirnya dia menjadi lulusan terbaik The London School of Public Relations-Jakarta tahun 2008 dengan predikat summa cum laude. Wow.. keren sekali.

Perasaan bangga jelas aja muncul karena walaupun kami tak sedekat lem dan prangko, Iya' ini salah satu teman yang sering sharing denganku, dan aku tahu hasil itu adalah buah dari kerja kerasnya selama ini hidup di kota besar seperti Jakarta. Yaa..maklumlah dia ini asli daerah yang merantau ke ibukota. Anaknya sangat aktif dan gak bisa diem. Selalu haus pengetahuan dan tomboi abis. Yang menonjol dari ciri fisiknya adalah kulitnya yang putih banget bagai lobak dan rambutnya yang kriting kaya mi goreng. Gak pernah sedih, selalu ceria,selalu optimis dan bersemangat. Makanya aku kaget membaca teksnya malam itu.

Awalnya dia menggempurku dengan emoticon 'crying'. Ku tanya, 'Iya knapa?', dia hanya menjawab singkat, 'firda, iya sedihhh'.'Loh?Iya bisa juga sedih??!' candaku. 'beneran fir..lagi sedih..'. Ok, melihat reply darinya, aku mulai menata settingan diri dan mengaktifkan 'serius' mode di otakku. Aku tanya lagi,'sedih kenapa?mau cerita?'. Setelah menunggu beberapa saat Iya membalasnya.'Iya juga gak tau fir sedih kenapa. Iya cuma pengen nangis tanpa tau apa sebab yang pastinya'. Waduh..piye toh anak ini, sedih kok gak ada sebabnya. Hmm..tapi aku juga pernah sih mengalaminya, saat aku gundah menjadi pengangguran.Ahaa..pengangguran. Mungkin ini juga yang sedang dialami Iya berkaitan dengan perasaannya kala itu.

'Iya sedih tanpa sebab??gara-gara kerjaan-kah?' tanyaku spontan. 'Hmm..iya fir salah satunya itu. Iya bingung..harus gimana?Masa harus terus nganggur?'. Ups..tebakanku jitu juga. Perasaan yang wajar menurutku apalagi Iya' merupakan lulusan terbaik. Dengan segala kemampuanku, aku berusaha menyemangatinya. 'Iya..tenang aja..lulusan terbaik pasti bisa dapet kerja.Gw aja yang IPK-nya ngepas hampir dibawah standar bisa dapet kerja.Allah tuh cuma lagi ngatur schdule yang pas aja buat lo..nanti kalo dah fixed, baru deh Dia akan umumkan' begitu kata-kata bijakku. 'Kaya gini ya nasib fresh graduate?' katanya pesimis. Sembari bercanda aku berseloroh, 'Hehehehe..mungkin Iya sedang terkena sindrom fresh graduate blues..ga papa, gue juga pernah ngalamin, tapi santai aja, badai pasti berlalu kok, ini kan hanya bagian dari proses hidup'.Melihat jawabanku yang lagi-lagi bijak, Iya langsung mengirimiku emoticon tepuk tangan. 'Wahh..miss secara..bijaksana banget sih'. 'Miss secara' merupakan panggilan favoritnya yang ditujukan untukku, entahlah tapi Iya' seneng banget manggil aku dengan sebutan itu.

Hehehe..jadi ketawa sendiri membaca kata-kata Iya. Bijaksana. Kadang-kadang aja sih munculnya kalo otakku ini lagi pas settingannya. 'Trus waktu lo kaya gue, lo ngapain?'Iya kembali bertanya. ' Tetep berusaha tersenyum walau pahit rasanya. Yang penting berdoa sebanyak-banyaknya dan tetap berusaha!!Chayo!!!' jawabku.'Pengen deh bisa kaya firda..'.'Iya juga bisa..pasti bisa!Kerjaan itu cuma soal rejeki aja, kan lo tau rejeki dah ada yang atur, tinggal kita usaha terus' 'iya juga ya.Hmm..thanks banget ya fir..Iya jadi dapet suntikan semangat baru' begitu katanya menutup chat kami.

Aku menghela nafas panjang, lagi dan lagi aku mendapati cerita ini.Yups, curhatan Iya' tentang keluhannya adalah yang kesekian kali terdengar di telingaku. Ada banyak teman-temanku yang merasakan pahitnya menjadi pengangguran terdidik. Dan, masing-masing di kondisi yang sama, baru lulus kuliah alias fresh graduate. Aku pernah merasakan hal serupa bahkan deritaku lebih lengkap saat pekerjaan yang sudah ada didepan mata tiba-tiba lenyap. Gak karuan kondisi hati waktu itu.Tapi..yaa..mau gimana lagi..life must go on, dan aku gak boleh terus-terusan meratapi nasib, apa kata dunia kalo tiba-tiba senyum manisku lenyap digantikan airmata kesedihan??hehehe..

Jumlah pengangguran di negara ini katanya bakal meningkat tajam seiring krisis ekonomi global yang melanda dunia. Bayangan masa depan yang suram tentu akan bahkan sudah menghantui mereka yang sampai detik ini belum mendapatkan pekerjaan. Termasuk mereka, sahabat-sahabatku. Kalo kata aku, mereka bukannya gak punya kualitas dan kelayakan bekerja, tapi murni karena emang belum rejekinya. Salah gak sih pendapatku itu ditengah kondisi negara yang udah carut marut kaya gini?Mau dibilang lapangan kerjanya yang sempit??Menurutku nggak tuh..karena nyatanya apapun yang kita kerjakan berpeluang menghasilkan uangkaya jagain toilet misalnya, tinggal duduk aja liatin orang keluar masuk,bisa dapet duit. Mau dibilang SDM-nya sendiri yang belagu, maunya macem-macem, maunya dapet kerja yang sesuai? Menurutku juga sah-sah aja, wajar donk kalo kita punya mimpi, cita-cita, dan ambisi sekalipun judulnya fresh graduate. Gini nih emang gak enaknya jadi fresh from the oven..eh..fresh graduate maksudnya, sering diremehin mereka-mereka yang katanya 'berpengalaman'. Padahal mereka yang 'berpengalaman' pun belum tentu punya kualitas yang lebih bagus.

Balik lagi ke kisah sahabat-sahabatku, aku jadi berkaca pada diri sendiri yang sering banget mengeluhkan pekerjaanku saat ini. Hmm..ternyata aku bodoh yaa.. udah dikasih banyak nikmat yang gak semua orang miliki, eh..malah kufur. janji deh, aku bakal terus memperbaiki diri. Paling nggak, curhatan mereka udah menyentil hati kecilku untuk berhenti mengeluh. Inget kata Papaku, ' biarpun tempat kerjamu itu kecil, dan gajimu juga gak seberapa, yang penting kamu harus bersyukur bahwa kamu, dengan terbatasnya gajimu, masih bisa berbagi dengan banyak orang. Liat teman-temanmu yang masih menganggur, liat orang-orang di jalanan sana, kamu lebih baik dari mereka'. Iya ya, Papa bener juga.

Gak peduli aku ini cuma fresh graduate yang kerja di perusahaan kecil dan gaji yang gak besar, yang penting saat ini aku bisa jadi berguna buat banyak orang. Aku yakin bahwa aku bisa mengejar impian besarku menjadi seorang produser dari sebuah program TV yang dicintai masyarakat asal jangan cengeng dan pantang menyerah. Tapi yang paling paling penting dari semuanya : terus berdoa dengan ikhlas. Hmm..nih aku punya kata-kata bagus buat Iya' dan juga yang senasib dengannya, yang aku ambil dari fesbuknya ustad Ahmad Alhabsyi tadi pagi,'Boleh
jadi Allah mengabulkan harapan kita dengan tidak memberi apa yang kita inginkan, karena Dia Maha Tahu bahaya apa yang akan menimpa dibalik keinginan kita'. Buat Iya' sahabatku, kita punya mimpi yang besar..mimpi besar itu gak bisa diraih dengan hati dan jiwa yang kecil, jadi, untuk bisa menggapainya, kita mesti punya hati dan jiwa yang juga besar..jangan nyerah Ya'..liat kawanmu ini, semaksimal mungkin senyum selalu!hehehe..

Selasa, 20 Januari 2009

..Aku Bersyukur Punya Papa Seperti Papaku..

Pagi itu aku duduk di bangku nomor 2 dari depan patas AC 17, seperti biasa. Sepi banget. Paling cuma ada 10 orang didalamnya termasuk aku. Aku sibuk dengan handphone Nokia 6600 bekas adikku.Ya..hanya melihat-lihat saja teman-temanku di fesbuk. Tak berapa lama sms masuk. Kulihat siapa pengirimnya. Papa. "kamu dah nyampe mana?dah dapet bis?". Segera ku balas bahwa aku sudah aman di dalam bis dan baru mau akan melewati perempatan bulak kapal.

Setelah aku selesai dengan handphone-ku, aku kembali duduk manis dan menikmati perjalanan. Sekilas aku mendengar percakapan antara supir dan kernetnya. " AC-nya mati nih" kata si supir. "Yang didepan juga mati?" tanya sang kernet."Iya..gimana nih?mau balik tapi belom dapet setoran, diterusin..AC mati" Dalam hati aku bertanya-tanya, ada apa dengan bis yang kunaiki?benarkah AC-nya mati?.Kemudian aku memeriksa AC yang ada tepat diatas kepalaku. Yup, supir itu benar. AC-nya mati.

Belum sempat aku berpikir lebih jauh, aku lihat banyak penumpang turun karena menyadari bahwa AC dalam bis mati. Yang tersisa hanya tinggal berempat. Aku menunggu keputusan dari supir dan kernet bis itu. Karena secara pribadi, aku tak masalah dengan kondisi bis yang tanpa AC. Beberapa saat kemudian si kernet terlihat sibuk menenangkan penumpang yang juga akan ikut turun dan tiba-tiba si supir berteriak, 'Bayarnya cukup 5 ribu aja sama kaya non AC, nggak apa2, 5 ribu aja'. Spontan ada rasa miris hadir dalam hatiku. Mendapat potongan seribu mungkin tak berpengaruh bagi para penumpang, tapi uang seribu rupiah dikalikan jumlah penumpang itu sangat berarti bagi sang supir. Dan, jelas..potongan itu merugikan sang supir, ku tegaskan MERUGIKAN SUPIR, bukan perusahaaannya.

Aku hampir menitikkan air mata melihat usaha yang dilakukan supir dan kernetnya agar mereka bisa mendapatkan setoran dikondisi bis yang tanpa AC. Dengan susah payah Mereka meyakinkan penumpang untuk tidak turun berganti bis seraya berdoa agar bis itu juga tidak mogok dijalanan. Untunglah para penumpang rupanya masih memiliki kebaikan hati untuk tetap ada dalam bis.

Dari tempat dudukku, aku melihat wajah supir itu. Wajah yang renta dan mulai rapuh. Melihatnya, aku teringat papaku. Aku teringat bagaimana ia bekerja keras menghidupi kami. Aku teringat bagaimana ia sekuat tenaga membiayai aku hingga kini aku jadi sarjana. Dan..aku ingat betapa aku sering sekali berdebat dan melawannya. Aku bersyukur..karena aku tidak jadi turun dari bis yang AC-nya mati itu, aku bersyukur karena aku diberikan hati yang sensitif dan cengeng sehingga aku bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, satu hal yang terpenting.. walaupun papaku keras dalam mendidikku, aku bersyukur punya papa seperti papaku..jika boleh aku ungkapkan isi hatiku, "Pah..nda sayang sama papa,luv u so much.."

Senin, 05 Januari 2009

..Gue Pengen Kerja Dari Hati..

Hari ini adalah hari pertama gw masuk kerja lagi setelah libur tahun baru yang lumayan lama. Cuaca pagi ini cerah banget, sinar mataharinya terang dan menghangatkan. Harusnya sih gw bisa bersemangat memulai hari pertama kerja di tahun yang baru. Tapi entah kenapa gw menyikapinya dengan biasa-biasa aja, cenderung malas bahkan. Apa sebabnya ya? Pertanyaan itulah yang akhirnya muncul juga di otak gw dan sampe sekarang gw masih mereka-reka jawabannya.

Hmm..ketidaknyamanan yang mungkin sedang melanda diri gw dan menjadi sebab 'tidak bersemangat'nya pagi ini. Gw lagi merasa ga nyaman dengan pekerjaan yang sedang gw jalani saat ini. Apakah ini tandanya gw kufur nikmat ya??Hmm..kalo memang iya..y Allah, ampunilah aku.Satu lagi pertanyaan, apakah kenyamanan itu sama dengan syukur?Karena kata orang bijak,'ketika anda bisa bersyukur, maka otomatis anda akan merasa nyaman'.Hh..gw sedang dan selalu berusaha untuk tetap bersyukur pada apapun yang Allah berikan dalam hidup gw, termasuk takdir gw harus kerja di tempat ini. Tapi koq ya gw masih tetep berasa ga nyaman..

Letak persoalan yang sebenarnya bukan ada pada perusahaan atau jobdesk gw, tapi lebih ke faktor personalnya. Yang bikin bahaya, sampe detik ini gw belom menemukan apa sih yang sebenernya gw cari, apa sih yang membuat gw bahagia??Gw belum menemukan jati diri gw yang sesungguhnya, khususnya dalam menentukan karir.

Gw pernah punya impian masa kecil untuk keliling dunia beli boneka Barbie dan nampaknya dengan menjadi wartawan, gw bisa meraihnya. Maka, jadilah gw isi 'wartawan' di setiap kolom yang menanyakan tentang cita-cita. Semakin yakin pula gw dengan pilihan itu yang kemudian mengantarkan gw kuliah di fakultas ilmu komunikasi sekaligus berhasil jadi sarjana ilmu komunikasi. Harusnya sedikit lagi gw bisa mencapai cita-cita gw sebagai wartawan dan memang hampir terwujud dengan pekerjaan yang gw jalani saat ini. Tapi..semakin kesini, gw bukannya bersemangat, malah ragu. Apakah jalan yang gw pilih untuk jadi wartawan itu tepat??

Keraguan yang gw rasakan bukan muncul secara tiba2 melainkan dengan proses. Sebelum gw dinyatakan lulus sidang skripsi Agustus lalu, gw sudah melewati tahap terakhir rekrutmen pegawai di KanalOne, sebuah anak perusahaan Bakrie, dan dinyatakan lolos. Gak kebayang betapa senangnya hati gw saat itu,di bulan kelahiran gw, gw udah dapet kerja, yang bikin bangga lagi adalah sebelum gw lulus, gw dah dapet kerjaan. Tapi semuanya tiba-tiba berubah saat pihak KanalOne menunda tanda tangan kontrak dengan gw, alasan yang mereka kemukakan adalah renovasi kantor, dan lain sebagainya. Mereka menjanjikan waktu 2 minggu untuk memberi kabar lagi ke gw. Fine..ga masalah, gw bisa nunggu, lagipula gak cuma gw doank yang mengalami hal serupa, semua calon pegawainya pun merasakan. 2 minggu dari waktu yang dijanjikan, kabar itu belum juga muncul, sebulan kemudian juga tak ada tanda-tanda kepastian, lama-lama, gw mulai hopeless dan melepas harapan gw ke KanalOne yang sekarang berganti nama jadi Vivanews.

Gw mulai lagi dari awal untuk ngelamar kerjaan yang lain, ada kali selama sebulan sepi telepon dari perusahaan. Gw semakin hopeless tapi juga menikmati keadaan gw yang pengangguran, toh saat itu gw juga kan belom diwisuda. Gw bener2 jadi menikmati hidup sebagai jobseeker sekaligus pengangguran (kata orang), karena buat gw, gw bukanlah pengangguran, gw melakukan sesuatu bagi diri gw sendiri dan bisa jadi manfaat bagi orang lain, terutama nyokap gw. Ya iyalah, tiap hari kerjaan gw bantuin beliau jemur baju, nyapu, ngepel, nyetrika, dan cuci piring. Meskipun banyak orang bilang pekerjaan rumah tangga itu sepele, tapi bagi gw, yang terpenting adalah gw tetep bisa melakukan sesuatu dan apa yang gw kerjakan bisa ada manfaatnya. Sampe pada suatu hari Media Indonesia ngundang gw untuk ikutan tes calon reporter alias carep, ga diduga gw berhasil diterima disana.

Siapa sih yang nggak bangga bisa masuk ke perusahaan punyanya Surya Paloh itu??gw pun bangga pada awalnya meskipun status gw masih freelance. Hari itu hari pertama dan terakhir gw ada di Media Indonesia. Yah, semua orang pasti akan terkaget-kaget dengan keputusan gw yang dinilai terlalu cepat. Semua orang bingung dengan jalan pikiran gw. Tapi apa mau dikata keputusan itu sudah keluar. Konsekuensinya jelas gede, selain gw merusak nama almamater gw disana, gw juga terancam dimurkai Allah karena telah menyia-nyiakan rezeki yang udah dikasih. Gw juga bingung kalo ditanya kenapa gw bisa mengambil keputusan tersebut, mungkin kata hati gw yang menuntun seperti itu. Atau mungkin karena satu alasan ketidaknyamanan, gw juga nggak tahu pasti.

Sejak saat itu gw mulai galau dengan cita-cita gw. Gw mulai goyah dalam berpendirian. Dan menghasilkan satu pemikiran yang lain. Gw ga mau terlalu berambisi untuk jadi wartawan. Ya udahlah kerjaan apapun yang bikin gw nyaman akan gw terima. Masalahnya,kadang kenyamanan sering ga sejalan dengan kenyataan dan kondisi kehidupan. Gw pengen bekerja dari dan dengan hati tapi nanti jatuhnya gw jadi idealis dan itu terkadang berbenturan dengan kenyataan hidup dimana gw adalah harapan bagi orangtua gw meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Sekarang coba gw jawab arti kenyamanan bagi diri gw sendiri. Menurut gw, kenyamanan itu ga selalu harus ada di perusahaan besar dengan gaji besar dan dikuasai orang-orang besar, meski idealnya demikian. Nyaman adalah ketika gw bisa bekerja dengan keikhlasan dan sepenuh hati. Nyaman adalah ketika gw mendapatkan suntikan motivasi dari orang-orang disekitar lingkungan kerja gw. Dan nyaman adalah ketika gw mendapatkan gaji yang layak, yang bisa gw pergunakan tidak hanya bagi diri gw sendiri, tapi juga bagi orang-orang di sekitar gw. Nyaman adalah ketika gw bisa bersemangat pergi ke kantor. Nyaman adalah ketika gw bahagia dengan apa yang gw kerjakan. Itulah nyaman.

Gw terima tawaran kerja ditempat ini murni karena gw takut Allah marah ma gw. Ga ada alasan apapun selain karena Allah. Gw bener-bener mencoba bersyukur dengan rutinitas baru gw yang tiap pagi berangkat kerja dan ketemu macet. Susssaahh bgt ternyata. Susah untuk meredam idealisme gw sendiri. Dan sangat sulit buat gw menemukan kenyamanan di tempat ini. Buat gw bekerja disini memang lebih membuat gw bisa 'memaksakan' kenyamanan ketimbang di Media Indonesia.

Disana, meskipun perusahaan itu besar, dikuasai orang besar, tapi gw sangat terganggu dengan jarak tempuhnya yang jauh banget dari rumah gw. Ngekos??bisa memang tapi itu juga mengandung konsekuensi, yakni gw ga bisa merhatiin kucing-kucing gw. Gw pun ga suka dengan peraturan yang mewajibkan gw pake kostum item putih ditengah karyawan lain yang pake kemeja biru bertulisakan 'MetroTV' atau 'Media Indonesia'. Perbedaan status antara karyawan tetap dan karyawan kontrak tuh ketara banget. Padahal baik yang freelance ataupun tetap, kita sama-sama kerja buat Media Indonesia. Sampe detik ini gw bener-bener nggak bisa ngerti kenapa ada pembedaan kostum kaya gitu di sebuah perusahaan.

Nggak taulah gw ini sebenernya mau jadi apa. Mungkin iya gw terlalu idealis. Satu-satunya cara ampuh yang sedang gw lakukan untuk meredam semua ini adalah terus berdoa dan meminta agar gw bener-bener termasuk ke dalam golongannya orang-orang yang bersyukur. Semoga suatu hari nanti, kenyamanan itu akan gw temukan.Aminn...