Rabu, 31 Desember 2008

Tulisan Firda Di Penghujung 2008..

Jalanan Jakarta pagi tadi terasa sangat lengang. Mobil-mobil masih cukup banyak berseliweran tapi tak sepadat hari biasanya. Tak ada macet, tak ada pula kesibukan berarti.Cuacanya pun teduh, berbeda dari hari-hari kemarin. Cukup dimaklumi memang karena hari ini adalah hari terakhir di penghujung tahun 2008.

Di dalam bis kota, aku memandang ke luar jendela. Sepi, lega, dan mobil melaju tanpa tersendat sedikitpun.Seorang seniman jalanan menambah teduh suasana dengan lagu 'alhamdulillah' nya Opick. Pikiranku kemudian menerawang ke belakang. Teringat berbagai peristiwa selama satu tahun ini dimana segala suka dan duka selalu berbaur jadi satu cerita.

Dimulai dari kisah cintaku yang tak begitu mujur tahun ini.Putus cinta memang tak membuat aku hancur tapi menyisakan trauma yang cukup lumayan. Orang-orang baru datang dan pergi silih berganti mencoba meluluhkan kerasnya hatiku. Namun sayang, belum ada yang berhasil. Ada yang hampir berhasil tapi gagal juga.Bukan karena mereka tak baik tapi karena memang hati ini saja yang belum terketuk. Entah sampai kapan aku berjalan sendiri, yang pasti aku tetap bisa menikmatinya.

Lalu ingatanku tertuju pada masa kuliahku di semester-semester terakhir. Betapa kagetnya aku ketika tertulis di papan pengumuman nama dosen yang akan membimbing skripsiku. Dra.Sri Fatmawati Mashoedi. APAA???si 'Sari Whiteshoes' itu??Whiteshoes adalah grup band indie yang mengusung penampilan dan tema lagu era 80an, nah, potongan rambut Bu Sri itu juga era tahun 80an, jadilah kusebut ia demikian. Beliau adalah dosen psikologi komunikasi saat aku berada di semester 3. Gaya berbusananya yang jadul selalu jadi bahan ejekan di kelasku. Apalagi caranya mengajar juga bisa terbilang kolot dan termasuk ke dalam daftar dosen 'killer'. Banyak yang anti dan berdoa agar beliau bukanlah dosen pembimbing mereka, termasuk aku. Tapi apa mau dikata ketika kenyataan justru berkata sebaliknya. Aku berada di bawah bimbingannya.

Saat pertama kali brainstorming dengannya, jujur aku sangat ngeri dan takut karena selain disiplin, beliau tipikal doesn yang perfeksionis.Untunglah, 3 judul yang kuajukan, salah satunya membuatnya tertarik dan tanpa banyak kesulitan, beliau langsung memberikan tanda tangan persetujuan judul.Lama kelamaan aku mulai dekat dengannya dan ternyata penilaianku terhadapnya selama ini salah. Beliau tak seperti yang terlihat diluarnya.

Bu Sri itu baik dan sangat keibuan. Sangat sabar dalam memberikan bimbingan dan benar-benar demokratis, beliau mau menerima argumenku. Alhasil, penyusunan skripsiku menjadi sangat cepat meski sempat menemui berbagai kesulitan. Bu Sri adalah salah satu orang yang mengantarkan perjuanganku meraih titel Sarjana Ilmu Komunikasi tepat pada waktunya. Dan kini, aku merindukannya.

Airmataku perlahan jatuh saat cerita ini melintas dalam memoriku. Satu cerita dimana aku harus kehilangan nenekku untuk selamanya. Aku pernah berjanji dalam hati, kelak jika aku sudah punya gaji, aku akan membelikan apapun yang beliau minta. Tapi, sayang..belum sampai niat itu terwujud, ia sudah pergi. Terbersit penyesalan di hati namun sudahlah mungkin ini yang terbaik.Pengalamanku mendampingi beliau dari awal sakit hingga kematiannya merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam hidupku. Untuk pertama kalinya, semangatku untuk jadi jurnalis terbakar ketika aku mendapati perlakuan sebuah rumah sakit umum di kota Cirebon yang sangat tidak menyenangkan. Bagaimana bisa orang-orang di rumah sakit itu tega menelantarkan nenekku yang sedang sekarat hanya karena beliau dianggap miskin dengan menggunakan askes???Dimana sisi kemanusiaan merekaa??Hampir kalap aku saat itu kalau saja sepupu-sepupuku tidak datang menenangkanku. Walaupun pada akhirnya beliau harus pergi, aku bersyukur, derita itu akhirnya lepas sudah.

Perjalananku selama satu tahun ini ditutup dengan pengesahan gelar sarjanaku 2 minggu lalu. Tak terlukiskan betapa bangganya aku bisa menyelesaikan kuliahku yang 4 tahun itu. Begitu mengharukan sekaligus memberikan pengharapan yang baru. Sekali lagi aku tersenyum. Kali ini, khusus kutujukan padaNya. 'Alhamdullillah' yang dinyanyikan seniman itu menggugah hatiku untuk tetap bersemangat melanjutkan hidup di tahun baru yang beberapa jam lagi akan dimulai. Satu resolusi yang ada dalam hatiku adalah semoga aku menjadi lebih baik dan mendapatkan segala yang terbaik dalam hidup..amin..

Selasa, 30 Desember 2008

Yang Tak Tergantikan

Rintik hujan malam ini sungguh terasa berbeda dari sebelumnya.4 Desember 2008,hari ini, genap 3 tahun ia meninggalkanku. Sosok yang aku sayangi telah pergi dan tak akan pernah kembali lagi disisiku. Entah bagaimana aku harus ungkap perasaanku, yang pasti hingga kini aku belum menemukan penggantinya.

Teringat dengan jelas caranya menunjukkan cinta. Bagi sebagian orang mungkin terlihat kaku, tapi bagiku sungguh berkesan. Ia yang tak banyak bilang cinta, selalu tenang dan setia disampingku benar-benar membuat aku hampir gila karena pesonanya. Tak banyak yang sepertinya dan karena itu pula dia tak tergantikan.

Kini, aku berjalan sendirian.Bagai memiliki sayap-sayap patah, jalanku menjadi tak seimbang. Aku terus mencoba bangkit dan menatap ke depan. Entah sampai kapan aku akan terus mencoba, tapi sepertinya tetap sama, aku masih mencintainya, kemarin, hari ini, ataupun nanti. Walaupun ku tahu, dia sudah tenang ada disana.

Kamis, 25 Desember 2008

Lentera Jiwa by Andy F.Noya

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena pecah kongsi dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.

Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese.Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Adit ya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Jumat, 19 Desember 2008

Satu Cerita Di Hari Senin, 15 Desember 2008

Pagi ini, 15 Desember 2008. Lima belas menit lagi, acara paling bersejarah itu akan dimulai. Aku mulai bersiap – siap merapikan kebaya dan togaku untuk masuk ke dalam Grand Ballroom Hotel The Ritz Carlton Jakarta. Suasana lobby tampak ramai dipadati beberapa orang memakai jas dan kebaya. Aku terus berjalan memasuki ruangan dan disana aku menjumpai semua teman-temanku lengkap mengenakan kostum yang sama denganku. Di sisi kanan barisan kursi kami, tampak seluruh orangtua hadir menyaksikan perhelatan akbar itu. Senyum- senyum ceria mereka mengeluarkan auranya. Dalam hati, mereka pasti bangga kepada kami. Yap, hari ini adalah hari dimana kami, mahasiswa-mahasiswa The London School of Public Relations- Jakarta akan di sahkan sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi.


Aku menduduki sebuah kursi yang di bagian belakangnya tertera tulisan 095.Firda Puri Agustine, S.Si. Melihat gelar dibelakang nama lengkapku, aku jadi teringat akan perjuanganku untuk mendapatkannya. Terekam pula berbagai kenangan manis didalamnya. Aku ingat ketika 4 tahun lalu datang ke Wisma Dharmala Sakti untuk membeli formulir pendaftaran seharga 200.000 Rupiah dan mengikuti beberapa rangkaian tesnya sampai akhirnya aku tercatat sebagai mahasiswi disana, kampus yang sering dianggap kampusnya artis dan orang-orang borjuis. Mendengar anggapan itu, toh aku tak peduli karena dulu aku memang merasa layak ada disana dengan latar belakang keluargaku yang bisa dibilang sangat lebih dari cukup, selain karena cita-citaku yang ingin berkarier di bidang komunikasi.


Tahun pertama aku menjadi mahasiswi, ku jalani dengan sangat menyenangkan. Terlebih karena letak kampusnya yang jauh dari rumah, aku jadi bisa bergerak bebas lepas dari aturan orangtuaku yang saat itu aku anggap mengekang. Aku bisa pergi kemanapun yang aku suka bersama teman-teman baruku. Ku akui, gaya hidup teman-temanku terbilang cukup mewah dan aku pun sempat terpengaruh. Bagiku tak masalah membeli sepatu seharga 300 ribu agar tak kalah dengan teman-temanku. Meskipun demikian, aku tak sampai kelewatan batas karena aku masih menggunakan transportasi umum untuk sampai ke kampus, tidak memilih menggunakan mobil pribadi yang sebenarnya bisa saja digunakan beserta supirnya.


Di awal – awal masa kuliah itu, aku banyak melakukan penyesuaian diri. Mulai dari rutinitas macet yang setiap pagi tak pernah absen ku temui sampai gaya hidup anak-anak kampus metropolitan yang hobi hang-out sana sini. Mulanya aku terus mengeluh karena setiap pagi jalanan selalu padat, tapi lama-lama aku jadi terbiasa..’yah, mau gimana lagi, dah harusnya kaya gini’ begitu pikirku. Kehidupanku juga semakin berwarna dengan hadirnya pacarku yang kini sudah almarhum. Aku pun jadi tau tempat-tempat di Jakarta karenanya. Satu tahun itu aku tempuh untuk mulai menghadapi kerasnya Jakarta.


Masuk tahun kedua, aku sudah jauh lebih menguasai medan. Aku mulai berkenalan dengan jenis transportasi kereta api karena kampusku berpindah tempat di kawasan Kebon Sirih yang jika aku tetap menggunakan bus, aku akan menghabiskan waktu hampir 2 jam lebih di jalan. Di tahun kedua ini, aku menjumpai teman-teman baru yang berbeda dari sebelumnya, dan teman-teman baruku inilah yang nantinya akan terus bersama sampai akhir perjalananku di LS.


Saat itu, kampusku terletak di gedung Dewan Pers sebelum akhirnya pindah ke gedung annexe Bimantara untuk kemudian menetap di Sudirman Park. Setiap selesai jam kuliah, aku dan teman-temanku selalu menyempatkan diri makan di warung ayam bakar belakang kampus. Dari kebersamaan makan siang itulah aku menemukan kawan senasib dari Bekasi bernama Feli. Akhirnya, aku, Feli, dan beberapa teman lain, janjian di Stasiun Bekasi untuk pergi kuliah bersama. Begitu terus setiap pagi bahkan sampai tahun-tahun terakhir aku kuliah disana, Feli selalu bersamaku tiap pulang dan pergi kuliah, bahkan banyak yang bilang kami kembar..hehehehe…


Di semester 3, satu kejadian pahit harus kuterima dengan kepergian pacarku menghadap keharibaanNya. Sedih itu pasti tapi aku tidak lantas terpuruk. Sehari setelah ia pergi, aku bahkan masih sempat jalan-jalan ke Blok M Plaza bersama teman-temanku. Hidupku pelan tapi pasti mengalami perubahan sejak peristiwa itu. Aku jadi banyak merenung dan hasil perenungan itu aku larutkan dalam sujud-sujud panjangku kepadaNya. Aku semakin mendekatiNya dan berubah menjadi sosok yang lebih arif memandang hidup.


3 bulan setelah ia pergi, ada tugas dari mata kuliah Dramatic Literature dimana masing-masing kelas membuat pertunjukan drama yang nantinya diperlombakan. Judul drama kelasku diangkat dari dilm Broadway berjudul Fame of The Musical. Di event itu, aku mengambil peran sebagai Head of Coordinator Backdrop and Properties yang bertanggung jawab atas desain panggung dan segala hal yang berhubungan dengannya. Walaupun aku tak bisa menggambar, tapi tugas itu ku jalankan dengan sebaik mungkin. Dibantu seorang calon arsitek dari Trisakti, setiap hari aku mengerjakan tugas gambar backdrop dan menyiapkan segala properti hingga ke Pasar Tanah Abang. Begitu banyak cerita tentang event ini yang diwarnai dengan insiden pencurian yang dilakukan teman kami sendiri.


Masuk semester 6 , kami semua pindah ke kampus baru di Sudirman Park. Di waktu itu, kami ditugaskan untuk magang di perusahaan dan membuat laporan setelah selesai melewati masa kontraknya dan wajib mengambil jam kuliah malam. Aku yang tadinya sangat idealis tak ingin masuk ke Bisnis Indonesia, -sebuah kantor dimana papaku dulu bekerja – akhirnya menyerah dengan keadaan dan menjalani hari-hari magangku selama 3 bulan disana. Tak pernah kusangka, jodohku di Bisnis Indonesia justru mengundang berbagai hikmah yang luar biasa hingga aku mengenal banyak orang penting dan bertemu satu sosok yang menggetarkan hatiku.


Tepat pada hari ini, 1 tahun yang lalu di seminar Commusication – sebuah event terakhir yang kami buat bersama sebelum skripsi-, sosok itu hadir dan menyadarkanku akan arti ketulusan. Dia, yang begitu kontroversial dan dibenci banyak orang, datang membawa sejuta warna dalam hidupku Sayang, kini ketika hari ini aku berdiri tegak dengan mengemban sebuah tanggungjawab baru, ia menghilang entah kemana. Tapi yah itulah hidup, harus terus berjalan kedepan..



Ah,mari kita kembali ke hari ini. Tiba-tiba aku koq jadi sangat ingin menangis begitu namaku dipanggil maju ke atas podium. Ada rasa haru juga bangga melihat bahwa seluruh perjuanganku selama ini termasuk perjuangan menyelesaikan skripsi yang tidak mudah akhirnya tak sia-sia. Aku mampu buktikan pada kedua orangtuaku, aku bisa memberi mereka kebanggaan. Sekali lagi yang harus aku buktikan setelah gelar S.Si ada melengkapi namaku adalah kemampuanku untuk meraih impianku menjadi berguna bagi banyak orang dengan menjadi seorang jurnalis sejati..yaa..semogaa…

Selasa, 02 Desember 2008

Kisah Cintaku Dengan Seekor Kucing Bernama Michi

Pagi itu, 06 Agustus 2006, seperti biasanya aku keluar teras menghirup udara pagi seraya menyapa kucingku, Dora. Namun, ada yang tak biasa, karena aku tak melihat Dora di atas akuarium, tempat favoritnya menghabiskan malam. Aku mencarinya tapi tak juga kutemukan, ku panggil namanya, tetap ia tak kunjung muncul. Aku mulai panik dan khawatir mengingat ia sudah kuanggap sebagai sahabat terbaikku. Tiba-tiba aku teringat sesuatu, Dora sedang hamil. Yaa..mungkin ia sedang melahirkan di suatu tempat, pikirku. Aku lantas berlari menuju gang samping rumahku karena seingatku, aku pernah menunjukkan tempat ini pada Dora. Benar saja, kulihat Dora ada disana, menyempil diantara kardus bekas dan tumpukan karung beras. Wajahnya menatap ke arahku seolah ingin menyapa. Aku belai bulu halusnya dan seketika dari bawah perutnya, perlahan nampak 2 makhluk kecil tertidur pulas. Ternyata benar dugaanku, Dora kini punya 2 bayi lucu. Salah satu warna bayinya adalah putih kombinasi hitam, sementara satunya berwarna hitam kombinasi kuning. Langsung saja kuberi nama, yang putih adalah Michi dan yang hitam adalah Lili.

Aku sempat khawatir dengan mata kedua bayi kucing itu mengingat salah satu mata Dora cacat. Aku khawatir cacat itu akan turun pada bayinya, tapi syukurlah itu tak terjadi. Dora adalah satu-satunya kucingku yang mengalami cacat pada matanya. Salah satu matanya hilang atau banyak orang bilang ‘pice’ , seringkali aku disuruh membuang kucing yang banyak dianggap jelek oleh teman-teman dan orangtuaku ini, tapi aku tak mau karena aku sangat menyayanginya. Binatang ini adalah sahabat yang selalu setia menemani dan menghiburku kala aku sedih. Mungkin hal ini terdengar aneh dan ‘lebai’ bagi sebagian orang dimana aku bisa begitu sayangnya pada mereka dan bahkan memperlakukan mereka layaknya manusia, tapi itulah aku, sang pecinta binatang (khususnya kucing), yang perasaanku hanya bisa dimengerti oleh mereka yang juga pecinta binatang.

Michi dan Lili terlahir sempurna, bahkan sangat manis wajahnya. Meskipun hanya kucing kampung, bulunya begitu indah dan lebat. Keduanya memiliki jenis kelamin dan karakter yang berbeda. Lili betina, Michi seekor jantan. Lili, walaupun betina, ia sangat pemberani dan tak canggung bermain dengan manusia. Hal sebaliknya justru terjadi pada Michi yang berjenis kelamin jantan. Ia sangat penakut dan selalu menghindar jika ada yang ingin menyentuhnya. Sifatnya ini sangat merepotkanku terutama saat banjir besar di akhir tahun 2006 melanda komplek perumahanku. Tindakan pertama yang kulakukan kala air sudah mulai masuk teras rumahku adalah menyelamatkan ketiga kucingku dengan membawa mereka ke lantai 2 rumahku. Aku tidak kesulitan saat harus menggendong Dora dan Lili, tapi aku sangat kewalahan menghadapi Michi yang sangat ketakutan melihat air. Alhasil, aku harus bersabar dan menggunakan cara lain untuk menangkapnya, dan syukurlah, Michi bisa kuselamatkan.

Lama kelamaan, Michi dan Lili tumbuh menjadi kucing-kucing dewasa. Mereka sudah bisa mencari makan sendiri kala Dora tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Anehnya, jika Lili biasa berkeliling dan jalan-jalan, Michi sangat betah di teras rumah. Dia sangat jarang keliling-keliling keluar rumah dan selalu menungguku untuk memberinya makan. Pernah suatu kali, Michi tidak ada di sekitar teras rumahku, aku sangat cemas karena ia tak kunjung kembali hingga sore hari. Aku menangis karena kupikir Michi telah hilang. Aku sedih mengingat kebersamaanku, dia, dan juga Lili. Aku sudah kehilangan Dora dan aku tak ingin itu terjadi pada Michi. Aku terus berdoa agar Michi kembali, tiba-tiba saja pas Magrib menjelang, Michi mengeluarkan suaranya, aku menghambur keluar dan menangis dihadapannya. Sejak kejadian itu, Michi semakin betah di teras rumah, tak pernah keluar kemana-mana kecuali jika pagi ia ingin menjemur bulunya.

Michi menjelma menjadi seekor kucing yang mengesankan hatiku, apalagi setelah Lili mati. Ia menjadi binatang yang selalu aku ajak bermain dan bercanda saat aku merasa kesepian. Tingkahnya selalu saja membuatku tersenyum. Ia seolah mengerti apa yang aku ucap dan rasakan. Bahkan, ia menjadi salah satu motivasiku dalam mencari kerja. Aku ingin bisa memberinya makanan enak setiap hari, ingin selalu memberi makanan favoritnya (mi goreng) dan juga baju khusus kucing. Jika aku sedang berada di luar kota, aku pun selalu mengingatkan orang rumah umtuk memperhatikannya. Tak luput, ia beserta kucing-kucing yang pernah kumiliki, hadir di setiap doaku, aku ingin, mereka tetap menjadi sahabatku di akhirat nanti. Amin..